Aklamasi Tunggal, Kursi Ketua Karang Taruna Dipertanyakan

oleh -26 Dilihat
oleh
Lonjakan NTE KTH Jatim, Distribusi Manfaat Dipertanyakan
Ronggo Nagoro resmi terpilih sebagai Ketua Karang Taruna Kota Kediri periode 2026 – 2031 melalui musyawarah mufakat yang digelar pada Minggu (5/4/2026).
banner 468x60

KEDIRI, Garudasatunews.id — Proses pemilihan Ketua Karang Taruna Kota Kediri periode 2026–2031 menuai sorotan setelah Ronggo Nagoro ditetapkan secara aklamasi dalam forum musyawarah mufakat, Minggu (5/4/2026). Minimnya kandidat dalam proses tersebut memunculkan pertanyaan terkait dinamika demokrasi internal organisasi kepemudaan itu.

Penetapan dilakukan tanpa voting karena hanya terdapat satu calon yang maju. Forum dihadiri perwakilan tiga kecamatan—Mojoroto, Kota, dan Pesantren—serta unsur pengurus tingkat Provinsi Jawa Timur. Kondisi calon tunggal ini dinilai mencerminkan terbatasnya kompetisi dalam proses regenerasi kepemimpinan.

Ronggo Nagoro dalam pernyataannya menegaskan arah kepemimpinannya akan menempatkan Karang Taruna sebagai mitra strategis Pemerintah Kota Kediri. Ia menyebut program organisasi akan diselaraskan dengan agenda pemerintah daerah.

“Tentu program Karang Taruna akan selaras dengan program Pemerintah Kota Kediri. Kami memposisikan sebagai mitra strategis,” ujarnya, Senin (6/4/2026).

Namun, pendekatan tersebut memunculkan kritik tersendiri. Kedekatan organisasi kepemudaan dengan pemerintah dinilai berpotensi mengaburkan fungsi kontrol sosial yang seharusnya tetap dijaga.

Di sisi lain, Ronggo memaparkan sejumlah visi dan misi, mulai dari pengembangan sumber daya manusia, penguatan ekonomi kreatif pemuda, hingga peningkatan peran sosial dalam mendampingi masyarakat rentan. Program tersebut juga mencakup literasi politik, wawasan kebangsaan, serta keterlibatan dalam penyebaran informasi program pemerintah.

Isu lingkungan dan pelestarian budaya lokal turut dimasukkan dalam agenda kerja, termasuk edukasi pengelolaan limbah rumah tangga dan penguatan identitas daerah melalui sektor wisata dan kearifan lokal.

Meski demikian, efektivitas program tersebut sangat bergantung pada independensi organisasi serta keterlibatan aktif pemuda di tingkat akar rumput. Tanpa ruang partisipasi yang luas, Karang Taruna berisiko menjadi sekadar perpanjangan tangan kebijakan pemerintah.

Fenomena calon tunggal dalam pemilihan ini menjadi catatan penting bagi proses kaderisasi ke depan. Minimnya kompetisi dinilai dapat melemahkan kualitas kepemimpinan dan mengurangi legitimasi di mata anggota.

Kepemimpinan baru kini dihadapkan pada tantangan besar: membuktikan bahwa aklamasi bukan sekadar formalitas, melainkan mampu menghadirkan perubahan nyata bagi pemuda Kota Kediri. (Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.