
Achsanul mengakui, hingga saat ini masih terdapat pengusaha lokal yang mampu menyerap hasil panen petani dengan harga yang dinilai layak. Menurutnya, keberadaan pengusaha yang masih memberikan perhatian terhadap keberlangsungan petani tembakau patut disyukuri.
“Bersama para ulama, merekalah yang selama ini menjaga agar petani tembakau Madura tidak sendirian,” jelasnya.
Meski demikian, Achsanul menegaskan bahwa kondisi tersebut tidak dapat terus-menerus menjadi tumpuan utama perekonomian Madura dalam jangka panjang. Pasalnya, kemampuan serapan pengusaha lokal memiliki keterbatasan dan belum tentu dapat bertahan selamanya.
Karena itu, kata Achsanul, perjuangan untuk membentuk KEK Tembakau Madura harus terus dilanjutkan. Gagasan tersebut, menurut dia, berawal dari kegelisahan para ulama, kemudian mendapat sambutan dari kalangan pengusaha dan petani hingga akhirnya disusun menjadi naskah akademik bersama sejumlah perguruan tinggi di Madura.
“Ekonomi suatu daerah tidak bisa bertumpu pada pundak beberapa orang. Untuk itulah Kawasan Ekonomi Khusus Madura diperjuangkan,” tegasnya.
Tokoh kelahiran Sumenep tersebut berharap seluruh pihak, termasuk para pemangku kebijakan, dapat bergerak bersama agar perjuangan membentuk KEK Tembakau Madura tidak berhenti di tengah jalan.
“Insya Allah kami terus mengawal sampai terwujud. Kepada yang memiliki kewenangan dan kekuasaan, tolong bantu Madura,” tutupnya. (Red-Garudasatunews)














