Gus Muwafiq Ingatkan Risiko Diplomasi Indonesia

oleh -19 Dilihat
oleh
Gus Muwafiq Ingatkan Risiko Diplomasi Indonesia
Gus Muwafiq, saat menghadiri acara halal bihalal dan kupatan di Aula Lembaga Pendidikan Ma’arif NU, Dadapan, Kecamatan Solokuro, Kabupaten Lamongan, Minggu (29/3/2026) malam.
banner 468x60

LAMONGAN, Garudasatunews.id – Pendakwah Ahmad Muwafiq menyoroti potensi risiko besar dalam sikap diplomasi Indonesia di tengah konflik Iran dan Amerika Serikat, dengan menekankan perlunya kalkulasi matang atas ketergantungan ekonomi nasional terhadap pasar global.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam acara halal bihalal dan kupatan di Aula Lembaga Pendidikan Ma’arif NU, Dadapan, Kecamatan Solokuro, Kabupaten Lamongan, Minggu (29/3/2026) malam.

Gus Muwafiq menilai konflik yang terjadi tidak semata persoalan geopolitik, melainkan berkaitan erat dengan perebutan kendali ekonomi global, khususnya dominasi pasar dunia yang selama ini dikuasai kekuatan tertentu.

“Perang ini sebenarnya agar bandul pasar dunia tidak bergeser,” ujarnya, mengindikasikan adanya kepentingan mempertahankan dominasi ekonomi global.

Ia menyoroti kemunculan Iran sebagai potensi kekuatan produksi baru yang dinilai dapat mengganggu keseimbangan pasar internasional. Kondisi tersebut, menurutnya, menjadi salah satu faktor pemicu meningkatnya tensi konflik.

“Jika Iran berkembang sebagai produsen besar, pergeseran pasar tidak terhindarkan. Kepentingan mempertahankan pasar itulah yang memicu konflik,” ungkapnya.

Terkait posisi Indonesia, Gus Muwafiq mengingatkan pemerintah agar tidak gegabah dalam menentukan arah kebijakan luar negeri. Ia menegaskan bahwa ketergantungan Indonesia terhadap negara produsen global masih sangat tinggi.

“Indonesia harus berhitung dengan pasar dunia, karena kita masih bergantung pada negara produsen,” tegasnya.

Ia juga menyoroti potensi dampak serius jika terjadi embargo, terutama terhadap sektor teknologi dan industri strategis yang selama ini bergantung pada produk dan sistem dari Amerika Serikat.

Menurutnya, penghentian akses terhadap layanan digital, suku cadang pesawat, hingga peralatan industri dapat melumpuhkan aktivitas ekonomi nasional dalam waktu singkat.

Di sisi lain, hubungan Indonesia dengan Iran dinilai lebih bersifat emosional dibandingkan pragmatis, sementara kebutuhan riil masih bertumpu pada negara-negara yang memiliki keterkaitan erat dengan Amerika.

Pernyataan tersebut memperkuat peringatan agar pemerintah menjaga keseimbangan sikap diplomasi, menghindari langkah konfrontatif yang berpotensi berdampak langsung pada stabilitas ekonomi nasional.

(Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.