KEDIRI, Garudasatunews.id – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kediri menuntaskan rangkaian program nasional Gebyar Ramadan Keuangan Syariah (GERAK Syariah) 2026 dengan menyasar ratusan pelajar, santri, dan masyarakat umum. Program ini diarahkan untuk memperkuat literasi dan inklusi keuangan syariah di tengah meningkatnya aktivitas ekonomi selama Ramadan 1447 Hijriah.
Penutupan program dilakukan melalui talkshow Ramadan di Radio Andika pada Sabtu (21/3/2026) dengan mengangkat tema pengelolaan keuangan pasca Lebaran. OJK menyoroti potensi risiko keuangan rumah tangga akibat lonjakan konsumsi selama periode hari raya.
Kepala OJK Kediri, Ismirani Saputri, menegaskan pentingnya disiplin dalam mengatur keuangan setelah Idulfitri guna menjaga stabilitas ekonomi keluarga. Ia mengingatkan masyarakat agar tidak terjebak pola konsumtif berkepanjangan yang berpotensi memicu masalah keuangan jangka panjang.
Selama Ramadan, OJK Kediri menggelar berbagai program edukasi, di antaranya School of Syariah (SOS) yang diikuti 200 pelajar SMP di Ngawi. Selain itu, Program Santri Cakap Literasi Keuangan Syariah (SAKINAH) menjangkau 200 santri dari Pondok Pesantren Lirboyo dan Mamba’ul Hikam.
Edukasi juga diperluas melalui kegiatan daring dan siaran publik, seperti OJK Bincang Santai (OJK BiSa) terkait pasar modal syariah, talkshow pemanfaatan layanan paylater, serta diskusi rutin mengenai pengelolaan THR, kewaspadaan terhadap penipuan keuangan, hingga strategi menjaga kondisi finansial pasca Lebaran.
Tak hanya fokus pada edukasi, OJK Kediri juga menggelar kegiatan sosial berupa santunan anak yatim dan pembagian 150 paket takjil disertai materi literasi keuangan kepada masyarakat.
Dalam pelaksanaan program tersebut, OJK turut memfasilitasi pembukaan 400 rekening tabungan syariah bagi peserta. Langkah ini dinilai sebagai strategi konkret untuk memperluas akses layanan keuangan syariah sejak usia dini sekaligus mendorong inklusi keuangan di daerah.
OJK Kediri menegaskan bahwa penguatan literasi keuangan menjadi kunci untuk mencegah risiko finansial masyarakat, terutama di tengah maraknya penggunaan layanan keuangan digital yang tidak selalu diimbangi dengan pemahaman yang memadai. (Red-Garudasatunews)












