SURABAYA, Garudasatunews.id – Inovasi teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) mulai membuka peluang baru bagi dunia pendidikan vokasi di Jawa Timur. Salah satunya ditunjukkan Endy Bagus Setyawan Ramadhani, guru Desain Komunikasi Visual (DKV) SMKS PGRI 2 Ponorogo, yang berhasil mengembangkan legenda Reog Ponorogo menjadi karya animasi berbasis AI hingga meraih juara pertama dalam program pelatihan yang diselenggarakan Dinas Pendidikan (Dindik) Jawa Timur bersama Boke Technology.
Prestasi tersebut menjadi bukti bahwa teknologi digital dapat dimanfaatkan bukan hanya untuk menghasilkan karya kreatif, tetapi juga sebagai sarana memperkenalkan dan melestarikan kebudayaan lokal kepada masyarakat yang lebih luas.
Program pelatihan film dan animasi berbasis AI itu berlangsung selama dua bulan, mulai Agustus hingga Oktober 2026. Sebanyak 50 guru SMK dari berbagai daerah di Jawa Timur mengikuti kegiatan tersebut untuk meningkatkan keterampilan di bidang animasi dan desain komunikasi visual.
Dalam proses pembelajaran, peserta mendapatkan materi penyusunan prompt atau instruksi kepada AI, pembuatan gambar dari teks (text-to-image), hingga pengembangan gambar menjadi video (image-to-video). Mereka juga diperkenalkan dengan WonderClip AI untuk membantu menyusun visual dan alur cerita agar menghasilkan karya yang lebih terarah.
Endy memilih legenda Reog Ponorogo sebagai tema karya akhirnya. Pilihan tersebut sekaligus menjadi upaya mengangkat kekayaan budaya daerah melalui pendekatan teknologi modern.
Namun, proses produksi tidak sepenuhnya berjalan mudah. Keterbatasan kredit penggunaan aplikasi AI menjadi salah satu kendala yang harus diatasi. Ketika kredit aplikasi habis, peserta perlu mencari alternatif aplikasi lain agar proses pengerjaan tetap berjalan.
Meski demikian, Endy menilai teknologi AI mampu mempercepat proses produksi animasi yang sebelumnya membutuhkan waktu dan keterampilan teknis lebih kompleks.
“Saya awalnya mengira pelatihan biasa, seperti sertifikasi guru. Ternyata prosesnya cukup panjang dan hasilnya bisa membuka kesempatan untuk berangkat ke China,” ujarnya, Sabtu (31/10/2026).
Selain Endy, prestasi juga diraih Imron Hari Budisetyo, guru DKV dan Informatika SMKN 1 Takeran, Magetan. Ia mengembangkan kemampuan pembuatan film dan animasi dengan memanfaatkan teknologi AI untuk mendukung kegiatan pembelajaran di sekolah.
Imron berencana mengenalkan keterampilan menyusun prompt kepada siswa, terutama untuk membuat iklan produk dan konten kreatif yang dapat mendukung pengembangan kewirausahaan.
Menurutnya, pemanfaatan AI dapat menjadi alternatif pembelajaran agar siswa tidak hanya mengenal teori, tetapi juga mampu menghasilkan karya digital yang memiliki nilai tambah.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur Aries Agung Paewai menjelaskan, program tersebut merupakan tindak lanjut kerja sama antara Dindik Jatim dan Boke Technology dalam meningkatkan kompetensi guru pendidikan vokasi.
Dari 50 peserta pelatihan, sebanyak 15 karya terbaik mendapatkan apresiasi dari Boke Technology. Para peserta terpilih kemudian memperoleh kesempatan mengikuti pelatihan lanjutan pembuatan gim berbasis AI.
Program lanjutan tersebut dipersiapkan sebagai bagian dari pengembangan kompetensi untuk menghadapi kompetisi pembuatan gim berbasis AI di Shanghai, China, yang direncanakan berlangsung Januari 2027.
Aries menegaskan, peningkatan kemampuan guru dalam menguasai teknologi menjadi salah satu kebutuhan penting untuk menyesuaikan pendidikan vokasi dengan perkembangan industri kreatif.
Ia berharap keterampilan yang diperoleh para guru dapat diterapkan di lingkungan sekolah sehingga siswa memiliki kesempatan lebih luas untuk mengembangkan kreativitas, inovasi, dan kemampuan memanfaatkan teknologi digital.
Prestasi pengembangan animasi legenda Reog Ponorogo tersebut sekaligus memperlihatkan potensi kolaborasi antara pendidikan, teknologi AI, dan pelestarian budaya daerah. Tantangan berikutnya adalah memastikan pemanfaatan teknologi tersebut tidak berhenti pada kompetisi, tetapi juga menjadi bagian dari pembelajaran berkelanjutan dan penguatan identitas budaya lokal di era digital.
(Red-Garudasatunews)











