UB Bahas Pendidikan Inklusif, Delegasi 9 Negara Hadir

oleh -16 Dilihat
oleh
UB Bahas Pendidikan Inklusif, Delegasi 9 Negara Hadir
UB Bahas Pendidikan Inklusif, Delegasi 9 Negara Hadir
banner 468x60

MALANG, Garudasatunews.id – Universitas Brawijaya (UB) menggelar konferensi internasional yang membahas penguatan pendidikan inklusif dengan melibatkan delegasi dari sembilan negara. Forum ini menjadi ruang kolaborasi akademisi, pendidik, peneliti, praktisi, dan pemangku kepentingan untuk mendorong sistem pendidikan yang lebih adil, terbuka, serta mampu mengakomodasi keberagaman kebutuhan peserta didik.

Konferensi bertajuk The International Conference of Consortium for Inclusive Teacher Education and Development (C.I.T.ED.) 2026 tersebut mengangkat tema “Belonging Without Borders: Strengthening Collective Commitment for an Inclusive World”. Kegiatan berlangsung pada 27–28 Oktober 2026 melalui kerja sama Universitas Brawijaya, Consortium for Inclusive Teacher Education and Development (C.I.T.ED.), dan Monash University.

Ketua Pelaksana, Dr. Ive Emaliana, S.Pd., M.Pd., menjelaskan bahwa konferensi ini tidak hanya menjadi wadah pertukaran hasil penelitian, tetapi juga sarana membangun jejaring internasional untuk memperkuat riset dan pengembangan pendidikan inklusif, terutama dalam bidang pendidikan serta pengembangan tenaga pendidik.

Menurutnya, kolaborasi tersebut diharapkan berlanjut pada pelaksanaan penelitian bersama, diseminasi hasil riset, dan publikasi ilmiah di tingkat internasional.

Kolaborasi Internasional dan Tantangan Pendidikan Inklusif

Partisipasi delegasi dari sembilan negara menunjukkan bahwa pendidikan inklusif menjadi perhatian lintas negara. Pelaksanaan konferensi secara hibrida, yakni melalui pertemuan langsung dan daring, turut membuka kesempatan bagi peserta dari berbagai wilayah untuk terlibat dalam diskusi akademik.

Pendidikan inklusif tidak sebatas membuka akses masuk ke lembaga pendidikan. Implementasinya juga berkaitan dengan upaya menciptakan lingkungan belajar yang memberikan kesempatan setara, dukungan yang sesuai, serta ruang partisipasi bagi setiap peserta didik.

Dalam konteks tersebut, pengembangan kompetensi guru menjadi salah satu aspek penting. Pendidik membutuhkan pengetahuan, keterampilan, dan strategi pembelajaran yang mampu merespons perbedaan kemampuan serta kebutuhan siswa.

Menanti Dampak Nyata dari Hasil Konferensi

Penyelenggaraan konferensi internasional ini membuka peluang bagi perguruan tinggi dan komunitas akademik untuk memperluas pertukaran pengetahuan serta memperkuat kerja sama penelitian.

Namun, ukuran keberhasilan pendidikan inklusif tidak berhenti pada jumlah negara yang terlibat atau terselenggaranya forum internasional. Dampak yang lebih substantif perlu terlihat melalui tindak lanjut kolaborasi, penerapan hasil penelitian, pengembangan kapasitas guru, dan perbaikan akses pendidikan.

Karena itu, keberlanjutan kerja sama setelah konferensi menjadi aspek penting agar gagasan yang dibahas dapat berkontribusi terhadap pengembangan kebijakan dan praktik pendidikan yang lebih inklusif.

Konferensi C.I.T.ED. 2026 di Universitas Brawijaya diharapkan memperkuat komitmen bersama untuk membangun lingkungan pendidikan yang menghargai keberagaman dan memberikan kesempatan belajar secara lebih setara.

(Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.