KEBUMEN, Garudasatunews.id – Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Akhmad Wiyagus mendorong percepatan pembentukan Desa Siaga Tuberkulosis (TB) di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Dorongan tersebut disampaikan menyusul masih rendahnya jumlah desa yang telah membentuk Desa Siaga TB dibandingkan total desa yang ada di wilayah tersebut.
Dalam Rapat Koordinasi Percepatan Penanggulangan Tuberkulosis Kabupaten Kebumen di GOR Tanuharjo, Selasa (15/9/2026), Wiyagus mengungkapkan bahwa dari total 460 desa di Kabupaten Kebumen, baru 13 desa yang telah berstatus Desa Siaga TB. Angka tersebut dinilai masih jauh dari target percepatan penanggulangan penyakit tuberkulosis yang menjadi program prioritas nasional.
“Dari 460 desa yang ada di Kebumen, baru 13 desa yang sudah menjadi Desa Siaga. Jadi belum sampai 10 persen. Ini menjadi pekerjaan rumah bersama yang harus segera dituntaskan,” ujar Wiyagus.
Menurutnya, keberadaan Desa Siaga TB menjadi instrumen penting dalam memperkuat upaya pencegahan, deteksi dini, hingga pendampingan pengobatan pasien tuberkulosis di tingkat akar rumput. Pemerintah juga mendorong setiap desa menunjuk sedikitnya dua kader TB untuk membantu pelaksanaan program penanggulangan penyakit tersebut.
Wiyagus menegaskan bahwa penanggulangan TB tidak cukup hanya mengandalkan fasilitas kesehatan. Keterlibatan pemerintah desa, perangkat wilayah, kader kesehatan, hingga masyarakat menjadi faktor penting untuk memutus rantai penularan.
Dari sudut pandang tata kelola pemerintahan, percepatan pembentukan Desa Siaga TB juga menjadi bagian dari penguatan sinergi antara pemerintah pusat dan daerah. Wamendagri memastikan pemerintah pusat akan melakukan pembinaan dan pengawasan agar program penanggulangan TB masuk dalam dokumen perencanaan pembangunan daerah, termasuk RPJMD, RKPD, rencana strategis organisasi perangkat daerah, hingga penganggaran melalui APBD.
Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Kebumen terus memperkuat langkah pencegahan dan penemuan kasus TBC untuk mendukung target eliminasi TBC nasional pada tahun 2030. Hingga Agustus 2026, sebanyak 2.139 kasus TBC telah ditemukan dan dilaporkan di Kebumen. Namun angka tersebut masih berada di bawah estimasi jumlah kasus yang diperkirakan mencapai 3.690 kasus.
Data tersebut menunjukkan masih adanya tantangan dalam menemukan kasus secara aktif di tengah masyarakat. Karena itu, pemeriksaan kontak erat pasien, skrining kesehatan, investigasi kontak, dan program Active Case Finding (ACF) terus diperluas. Hingga awal September 2026, pemeriksaan aktif telah dilakukan di 74 lokasi dengan sasaran sekitar 7.400 orang.
Dari perspektif kesehatan masyarakat, pembentukan Desa Siaga TB dinilai dapat mempercepat penyebaran informasi mengenai pencegahan penyakit, meningkatkan kepatuhan pengobatan pasien, sekaligus memperkuat pengawasan terhadap kelompok berisiko tinggi yang memiliki kontak erat dengan penderita TBC.
Wamendagri juga menekankan pentingnya kolaborasi berjenjang mulai dari pemerintah pusat, pemerintah provinsi, kabupaten, kecamatan, desa hingga tingkat RT dan RW. Menurutnya, pendekatan tersebut diperlukan agar upaya penanggulangan tuberkulosis dapat menjangkau masyarakat secara lebih luas dan berjalan terpadu.
Pemerintah berharap percepatan pembentukan Desa Siaga TB dapat menjadi langkah konkret untuk memperkuat deteksi dini, pencegahan penularan, dan mendukung target eliminasi tuberkulosis di Indonesia pada tahun 2030.
(Red-Garudasatunews)













