Waduk Bendo Surut, Warga Sulap Dasar Waduk Jadi Ladang

oleh -23 Dilihat
oleh
Waduk Bendo Surut, Warga Sulap Dasar Waduk Jadi Ladang
Dasar Waduk Bendo bagian hulu mengering, dimanfaatkan warga untuk lahan pertanian. (Foto/Istimewa)
banner 468x60

PONOROGO, Garudasatunews.id – Surutnya air Waduk Bendo di Desa Ngadirojo, Kecamatan Sooko, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, membuka hamparan lahan yang sebelumnya berada di bawah genangan. Kondisi tersebut dimanfaatkan warga untuk bercocok tanam, terutama jagung dan kacang tanah, di tengah kemarau yang berlangsung sekitar empat bulan.

Perubahan wajah kawasan waduk itu menjadi pilihan warga untuk mempertahankan sumber penghasilan. Lahan yang sebelumnya tidak dapat digarap karena tergenang kini diolah menjadi pertanian musiman.

Tulus, warga Desa Ngadirojo, mengatakan warga memilih memanfaatkan lahan yang mengering daripada membiarkannya kosong. Mayoritas masyarakat setempat bekerja sebagai petani sehingga kemunculan lahan tersebut dianggap sebagai peluang tambahan pendapatan.

“Karena kering, eman kalau sampai lahan itu kosong. Kalau ditanami, rakyat semua bisa mendapatkan penghasilan tambahan,” kata Tulus.

Menurut dia, sejumlah warga menanam jagung dan kacang tanah. Pemanfaatan lahan tersebut dilakukan selama kondisi waduk memungkinkan dan sebelum genangan kembali menutup area pertanian.

Namun, fenomena ini menyimpan persoalan lain. Surutnya waduk bukan hanya menciptakan lahan baru bagi petani, tetapi juga memukul aktivitas ekonomi warga yang sebelumnya bergantung pada perairan.

Sebelum air menyusut, kawasan tersebut menjadi lokasi aktivitas memancing dan penyewaan perahu. Bahkan, warga menyebut pemancing dari luar daerah turut datang sehingga aktivitas tersebut ikut menggerakkan warung maupun jasa parkir di sekitar waduk.

Kini, kondisi itu berubah. Aktivitas perahu dan memancing menurun karena genangan air semakin jauh. Warga yang masih ingin mencari ikan bahkan harus berjalan sekitar dua kilometer lebih menuju area yang masih terdapat air.

Agung Margo, warga setempat, mengatakan penyusutan air mulai terasa sejak awal musim kemarau. Kondisi tersebut membuat warga yang sebelumnya mengandalkan perahu beralih mencari penghasilan melalui pertanian.

“Dampaknya itu kegiatan nelayan perahu akhirnya terganggu, tidak bisa berjalan sekarang,” ujarnya.

Persoalan berikutnya adalah ketersediaan air untuk mengairi tanaman. Lahan bekas genangan memang dapat digunakan, tetapi tidak otomatis memiliki sistem pengairan yang memadai.

Warga harus mengambil air dari aliran sungai menggunakan mesin diesel atau pompa. Kondisi itu membuat biaya produksi pertanian bertambah. Jaringan irigasi lama yang sebelumnya digunakan sebelum kawasan tersebut tergenang juga disebut sudah mengalami kerusakan.

Dengan demikian, surutnya Waduk Bendo menghadirkan dua sisi bagi masyarakat. Di satu sisi, dasar waduk yang mengering menjadi peluang pertanian sementara. Di sisi lain, berkurangnya debit air mematikan aktivitas nelayan dan wisata memancing yang sebelumnya menjadi sumber ekonomi warga.

Hasil pertanian pun belum sepenuhnya menjanjikan. Tulus menyebut hasil panen tidak menentu, sementara serangan hama tikus menjadi salah satu kendala yang mengurangi potensi pendapatan petani.

Kondisi Waduk Bendo tersebut sekaligus menunjukkan bagaimana perubahan debit air memaksa masyarakat sekitar beradaptasi. Ketika perairan menyusut, warga mengubah lahan bekas genangan menjadi ladang. Namun, keberlanjutan pertanian itu tetap bergantung pada kondisi air dan kemungkinan waduk kembali terisi.

(Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.