Viral di Sumenep! Cuma Rp.5000, Wisata Petik Semangka di Sumenep baru 6 hari, Penjualan Tembus 1 Ton.

oleh -21 Dilihat
oleh
banner 468x60

SUMENEP, Garudasatunews.id – Jumat, 3 Juli 2026 | Kebun semangka di Desa Nyapar, Kecamatan Dasuk, Kabupaten Sumenep, mendadak viral dan menjelma sebagai magnet wisata baru bagi masyarakat setempat serta luar daerah. Lahan pertanian yang semula biasa saja, kini disulap menjadi destinasi agrowisata petik semangka yang menawarkan pengalaman interaktif memanen buah langsung dari pohonnya.

 

 

​Konsep yang diusung sebenarnya sederhana, namun eksekusinya berhasil menarik perhatian luas. Di sini, pengunjung dibebaskan menjelajahi kebun, memilih, dan memetik sendiri semangka yang mereka inginkan.

​Menariknya, edukasi juga menjadi nilai tambah dalam wisata ini. Sembari mendampingi, para petani lokal dengan senang hati membagikan ilmu tentang cara mengenali ciri-ciri semangka yang sudah matang sempurna, manis, dan siap konsumsi.

 

 

​Makan Sepuasnya di Tempat, Bayar Murah untuk Oleh-Oleh :

​Daya tarik utama yang membuat pengunjung betah adalah fleksibilitas yang ditawarkan pengelola. Wisatawan diperbolehkan menyantap semangka sepuasnya di area kebun secara gratis tanpa dikenakan biaya tambahan.

​Namun, bagi pengunjung yang ingin membawa pulang hasil petikannya sebagai buah tangan, mereka cukup membayar dengan harga yang sangat terjangkau, yaitu Rp5.000 per kilogram.

 

 

​Strategi Digital Berbuah Manis: Tembus 1 Ton dalam 6 Hari :

​Penggagas agrowisata ini, David, mengungkapkan bahwa ide kreatif tersebut lahir dari keresahannya untuk mendongkrak nilai jual hasil panen tradisional. Menurutnya, menjual “pengalaman langsung” (experience) jauh lebih memikat minat pasar sekaligus mampu membuka ceruk ekonomi baru bagi sektor pertanian.

​”Saya ingin memberikan semangat kepada para petani agar terus produktif dan inovatif. Bagi petani muda, jangan pernah patah semangat. Saya mencoba terobosan baru dengan memanfaatkan media sosial, dan alhamdulillah respons masyarakat luar biasa,” ujarnya.

 

 

​Strategi pemasaran digital tersebut terbukti ampuh. Meski baru beroperasi selama enam hari, wisata petik semangka ini telah mencatatkan angka penjualan yang fantastis, yakni mencapai sekitar satu ton. Aliran pengunjung pun tidak hanya memadati area dari lokal Sumenep, melainkan juga berdatangan dari berbagai kabupaten tetangga.

 

 

​David berharap langkah kecilnya ini dapat menginspirasi para petani lain di Sumenep untuk mengoptimalkan potensi lahan mereka lewat digitalisasi dan inovasi. Ia optimistis, jika dikembangkan secara konsisten, Desa Nyapar bisa menjadi pelopor destinasi agrowisata yang berkelanjutan, sekaligus menjadi motor penggerak kesejahteraan ekonomi masyarakat sekitar. (ADC)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.