Harga Bahan Baku Melonjak, UMKM Kedelai Ngawi Pangkas Produksi

oleh -15 Dilihat
oleh
Kepala Badan Kepegawaian Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Kabupaten Pasuruan, Fathurrahman
Pengusaha kedelai goreng di Desa Beran, Kecamatan Ngawi.
banner 468x60

NGAWI, Garudasatunews.id Kenaikan harga kedelai, minyak goreng, dan bahan kemasan menekan keberlangsungan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) pengolah kedelai goreng di Kabupaten Ngawi. Lonjakan biaya produksi memaksa pelaku usaha menaikkan harga jual sekaligus memangkas kapasitas produksi hingga 50 persen untuk menekan kerugian.

Salah satu pelaku usaha terdampak, Muhadi Suko Utomo (54), perajin kedelai goreng asal Desa Beran, Kecamatan Ngawi, mengaku usahanya menghadapi tekanan berat dalam tiga bulan terakhir akibat kenaikan harga bahan baku yang terjadi secara bersamaan.

Menurut Muhadi, harga kedelai naik dari Rp8.500 menjadi Rp10.500 per kilogram. Harga plastik kemasan juga melonjak dari Rp28 ribu menjadi Rp55 ribu per kilogram, sementara minyak goreng curah meningkat dari Rp16 ribu menjadi Rp19.300 per kilogram.

Kondisi tersebut diperparah dengan sulitnya memperoleh minyak goreng kemasan di pasaran. Untuk menjaga kelangsungan produksi, Muhadi beralih menggunakan minyak goreng curah meski harganya juga mengalami kenaikan.

“Dulu pakai minyak goreng kemasan, kini beralih ke curah karena kemasan mahal dan barangnya langka,” ujar salah seorang karyawan, Mustaqim.

Akibat lonjakan biaya produksi, Muhadi mengurangi hari produksi dari semula 20 hari menjadi hanya delapan hari setiap bulan. Jumlah tenaga kerja tetap dipertahankan, namun jam kerja berkurang seiring turunnya kapasitas produksi.

Produksi kedelai goreng yang sebelumnya mencapai sekitar delapan kuintal per hari kini hanya berkisar empat kuintal per hari. Penurunan tersebut berdampak pada distribusi produk yang selama ini dipasarkan tidak hanya di Ngawi, tetapi juga ke Madiun, Ponorogo, dan sejumlah wilayah di Jawa Tengah.

Untuk menutup sebagian kenaikan biaya produksi, harga kedelai goreng kemasan lima kilogram dinaikkan dari Rp77 ribu menjadi Rp82 ribu per kemasan. Namun, Muhadi menilai penyesuaian harga tersebut belum mampu mengimbangi seluruh kenaikan biaya operasional.

“Susah sekarang, minyak goreng langka, harganya naik. Kita terpaksa naikkan harga dan kurangi jam kerja,” kata Muhadi.

Pelaku usaha berharap pemerintah segera mengambil langkah menstabilkan harga serta menjamin ketersediaan pasokan kedelai dan minyak goreng sebagai bahan baku utama industri pengolahan pangan skala UMKM.

Mereka menilai stabilitas harga dan kelancaran distribusi bahan baku menjadi faktor penting agar kapasitas produksi dapat kembali normal, distribusi ke berbagai daerah tetap terjaga, serta jam kerja karyawan dapat dipulihkan seperti sebelumnya.

(Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.