Atraksi Hardiknas Banyuwangi, Edukasi atau Seremonial?

oleh -23 Dilihat
oleh
Atraksi Hardiknas Banyuwangi, Edukasi atau Seremonial
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti (udeng putih) hadir dalam kegiatan Hardiknas di Banyuwangi.
banner 468x60

BANYUWANGI, Garudasatunews.id – Sebanyak 1.060 pelajar dilibatkan dalam pertunjukan kolosal Kuntulan Ewon pada peringatan Hari Pendidikan Nasional di Taman Blambangan, Banyuwangi. Kegiatan yang menampilkan 560 penabuh rebana dan 500 penari ini menuai perhatian, tidak hanya karena skala besar, tetapi juga efektivitasnya dalam konteks pendidikan yang substansial.

Pertunjukan yang melibatkan pelajar dari berbagai sekolah tersebut memadukan seni tari, musik rebana, dan nilai religius dalam satu panggung massal. Kesenian kuntulan yang berakar dari tradisi hadrah dan mengalami akulturasi dengan budaya Osing ditampilkan secara megah, namun memunculkan pertanyaan terkait orientasi kegiatan: penguatan budaya atau sekadar seremoni tahunan.

Formasi ribuan pelajar yang tersusun rapi di lapangan menjadi daya tarik visual utama. Para peserta mengenakan busana adat Osing dengan koreografi terstruktur. Namun, pelibatan pelajar dalam jumlah besar dalam waktu persiapan yang terbatas menimbulkan sorotan terhadap aspek pembinaan dan kesiapan.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, yang hadir dalam kegiatan tersebut memberikan apresiasi dan menyebut peringatan Hardiknas di Banyuwangi sebagai yang terbaik secara nasional. Pernyataan ini memicu diskursus mengenai parameter penilaian keberhasilan peringatan pendidikan di tengah tantangan kualitas pembelajaran.

Ia menekankan pentingnya pelajar mengembangkan potensi diri sekaligus menjaga budaya lokal, sejalan dengan arahan Prabowo Subianto terkait pembangunan generasi unggul. Namun, implementasi nilai tersebut dalam bentuk pertunjukan massal masih menyisakan ruang evaluasi terhadap dampak jangka panjangnya bagi kualitas pendidikan.

Di sisi lain, keterlibatan kepala daerah seperti Ipuk Fiestiandani yang turut menari bersama pelajar di akhir acara menambah nuansa seremonial. Kegiatan ini memperkuat citra budaya daerah, namun juga menimbulkan pertanyaan tentang proporsi antara substansi pendidikan dan pencitraan kegiatan.

Salah satu peserta mengaku hanya menjalani latihan kurang dari sepekan sebelum tampil. Fakta ini menyoroti potensi tekanan terhadap pelajar dalam kegiatan berskala besar, sekaligus mempertanyakan kedalaman proses pembelajaran yang diperoleh dari kegiatan tersebut.

Pemerintah daerah menyatakan kegiatan ini bertujuan memperkuat karakter dan budaya pelajar. Namun, dalam perspektif yang lebih luas, kegiatan seremonial berskala besar seperti ini perlu diimbangi dengan indikator keberhasilan pendidikan yang lebih terukur, bukan semata pada aspek visual dan partisipasi massal.

Kegiatan Kuntulan Ewon menjadi representasi kuat budaya lokal Banyuwangi, tetapi sekaligus membuka ruang kritik mengenai arah kebijakan pendidikan daerah: antara penguatan karakter berbasis budaya atau dominasi kegiatan seremonial tanpa dampak signifikan terhadap kualitas akademik. (Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.