PAMEKASAN, Garudasatunews.id – Penyerapan tembakau petani di Kabupaten Pamekasan, Madura, Jawa Timur, hingga 21 September 2026 mencapai 36.836 ton. Proses penyerapan yang berlangsung sejak pertengahan Agustus tersebut masih berjalan dan diperkirakan terus berlangsung hingga Oktober 2026.
Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Pamekasan memperkirakan seluruh hasil panen tembakau petani dapat terserap hingga Oktober. Saat ini, masih terdapat sekitar 15 hingga 20 persen tembakau yang belum terserap oleh gudang maupun pabrikan.
Kabid Pembinaan dan Perlindungan Disperindag Pamekasan, Raihan Akbar, mengatakan proses pembelian masih dilakukan oleh puluhan gudang yang sebelumnya telah mengajukan persetujuan pembelian tembakau sebelum musim panen dimulai.
Berdasarkan data Disperindag Pamekasan, terdapat 60 gudang yang melakukan penyerapan tembakau petani. Pemerintah daerah bersama pihak gudang dan pabrikan terus melakukan koordinasi untuk memastikan hasil panen petani dapat terserap.
“Per tanggal 21 September 2026, sudah 36.836 ton yang sudah terserap,” kata Raihan, sebagaimana diberitakan pada Selasa.
Persoalan penyerapan menjadi perhatian karena sebagian hasil panen masih berada di lahan dan belum seluruhnya dipanen. Sementara sebagian lainnya telah memasuki tahap perajangan dan siap dipasarkan kepada pembeli.
Petani juga diketahui melakukan penjualan langsung di lahan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa rantai penyerapan tembakau masih berlangsung secara bertahap seiring proses panen di tingkat petani.
Di sisi lain, perkembangan harga menjadi indikator penting dalam musim panen tembakau tahun ini. Disperindag Pamekasan menyebut harga pembelian tembakau relatif stabil, bahkan mengalami kenaikan untuk tembakau dengan kualitas tertentu.
Harga tertinggi tembakau petani tercatat mencapai Rp72.000 per kilogram, sedangkan harga terendah berada di kisaran Rp40.000 per kilogram. Secara rata-rata, harga pembelian tembakau petani berada di atas Rp50.000 per kilogram.
“Kalau harga terus kami pantau. Ada kenaikan, bagi kualitas paling bagus. Tahun ini harga tertinggi tembus Rp72.000,” ujar Raihan.
Perbedaan harga tersebut memperlihatkan bahwa kualitas menjadi salah satu faktor yang memengaruhi nilai jual tembakau di tingkat gudang maupun pabrikan. Karena itu, perkembangan harga dan penyerapan masih menjadi dua aspek yang perlu dipantau hingga seluruh hasil panen selesai dipasarkan.
Disperindag Pamekasan menyatakan koordinasi dengan gudang dan pabrikan akan terus dilakukan untuk memantau proses pembelian. Pemerintah daerah memperkirakan seluruh tembakau petani dapat terserap pada Oktober 2026.
Dengan masih berlangsungnya panen dan proses pembelian, capaian penyerapan 36.836 ton belum menjadi angka akhir musim panen. Perkembangan penyerapan, harga, serta sisa tembakau yang belum terjual masih akan menjadi indikator penting kondisi perdagangan tembakau petani Pamekasan hingga akhir musim panen.
(Red-Garudasatunews)
















