20 Tahun Lumpur Sidoarjo Rusak Ekosistem Porong

oleh -61 Dilihat
oleh
20 Tahun Lumpur Sidoarjo Rusak Ekosistem Porong
Foto ilustrasi 20 Tahun Lumpur Sidoarjo Rusak Ekosistem Porong
banner 468x60

SURABAYA, Garudasatunews.id – Dua dekade setelah semburan lumpur Sidoarjo terjadi, dampak lingkungan yang ditimbulkan masih terus membayangi ekosistem Sungai Porong. Hasil penelitian terbaru mengungkap sedimentasi lumpur dalam jumlah besar telah memicu degradasi serius terhadap habitat perairan dan mengancam keberlangsungan berbagai spesies biota air di kawasan hilir sungai.

Pakar Ekotoksikologi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Prof. Dewi Hidayati, mengungkapkan Sungai Porong selama bertahun-tahun menjadi jalur pembuangan material lumpur tanpa melalui proses penyaringan yang memadai. Kondisi tersebut menyebabkan peningkatan kekeruhan air secara ekstrem serta perubahan struktur dasar sungai yang signifikan.

Menurutnya, endapan lumpur halus yang terus mengalir telah menggantikan substrat alami berupa pasir dan kerikil. Akibatnya, partikel-partikel mikro lumpur masuk ke sistem pernapasan ikan dan menyebabkan kerusakan biologis yang serius.

“Paparan lumpur ini memicu kerusakan jaringan insang yang parah, seperti hiperplasia hingga nekrosis sel,” ujar Dewi, Sabtu (30/5/2026).

Temuan penelitian juga menunjukkan kerusakan tidak hanya terjadi pada organ pernapasan. Analisis menggunakan mikroskop elektron menemukan deformasi struktur sisik ikan yang berpotensi menghilangkan lapisan pelindung alami tubuh ikan dari serangan penyakit dan mikroorganisme.

“Deformasi pada sel penempel menyebabkan sisik ikan menjadi abnormal, mudah terlepas, dan rentan memicu infeksi mikroorganisme,” jelasnya.

Tekanan lingkungan yang berlangsung dalam jangka panjang tersebut disebut telah mengubah komposisi spesies ikan di kawasan hilir. Sejumlah ikan lokal yang sensitif terhadap kualitas air mengalami penurunan populasi, sementara spesies yang lebih adaptif mulai mendominasi ekosistem.

“Ekosistem hilir kini mulai didominasi spesies tangguh yang mampu beradaptasi di habitat berlumpur seperti ikan keting, belanak, dan beloso,” ungkap Dewi.

Meski demikian, kawasan pertambakan udang di sekitar muara Sungai Porong dinilai masih relatif aman. Peneliti menyebut keberadaan bentang alam alami di sekitar kawasan tersebut berperan sebagai penyaring mekanis yang menahan sebagian material lumpur sebelum mencapai area budidaya.

Selain sedimentasi, tim peneliti ITS juga menemukan ancaman pencemaran lain berupa kandungan logam berat, terutama aluminium dan besi, yang berpotensi membahayakan ekosistem apabila terjadi perubahan tingkat keasaman air.

“Tingkat racun dari logam aluminium ini sangat berbahaya jika derajat keasaman atau pH air berubah menjadi asam,” tegas Dewi yang juga menjabat Dekan Fakultas Sains dan Analitika Data ITS.

Hasil penelitian memperlihatkan kontras yang tajam antara wilayah hulu dan hilir Sungai Porong. Kawasan hulu yang tidak terpapar lumpur masih menunjukkan kualitas air stabil dengan kondisi biota yang sehat. Sebaliknya, wilayah hilir mengalami penurunan kualitas lingkungan secara signifikan sehingga hanya mampu menopang kehidupan spesies tertentu yang memiliki daya tahan tinggi.

Peneliti menilai temuan tersebut menjadi sinyal serius bagi pemerintah dan pemangku kepentingan untuk mempercepat langkah pemulihan lingkungan. Data biologis yang ditemukan dapat menjadi dasar penyusunan kebijakan rehabilitasi ekosistem secara terintegrasi guna mencegah kerusakan yang lebih luas dan berkepanjangan.

“Upaya ini sangat penting untuk merancang langkah nyata dalam mencegah dampak buruk kerusakan lingkungan yang berkelanjutan,” tandasnya.

(Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.