15 Sekolah Gresik-Lamongan Bergerak Cegah Mata Minus Anak

oleh -41 Dilihat
oleh
15 Sekolah Gresik-Lamongan Bergerak Cegah Mata Minus Anak
seorang anak menjalani pemeriksaan mata dengan alat medis terkait myopia
banner 468x60

GRESIK, Garudasatunews.id – Persoalan mata minus atau myopia pada anak mulai mendapat perhatian serius setelah gangguan penglihatan menunjukkan tren peningkatan. Sebanyak 15 sekolah di Kabupaten Gresik dan Lamongan kini dilibatkan dalam gerakan sosial Vision Fest Myopia Care–Natamata, yang mendorong edukasi dan deteksi dini kesehatan mata anak.

Gerakan yang diperkenalkan Eyelink Group bersama Optik Natamata tersebut digelar di Hotel Aston Gresik, Rabu (12/8/2026). Keterlibatan sembilan sekolah dari Gresik dan enam sekolah dari Lamongan menjadi sinyal bahwa persoalan penglihatan anak tidak lagi bisa dipandang sebatas kebutuhan penggunaan kacamata.

Berdasarkan data yang dirujuk dalam pemberitaan terkait, prevalensi gangguan refraksi pada anak di Indonesia meningkat dari 26 persen pada 2013 menjadi 40 persen pada 2023. Angka tersebut memperlihatkan adanya persoalan yang perlu ditangani tidak hanya setelah anak mengalami gangguan penglihatan, tetapi sejak gejalanya mulai muncul.

Dokter Spesialis Mata Eyelink Group, dr. Ria Sandy Deneska, mengatakan perubahan kemampuan melihat pada anak perlu dikenali sedini mungkin. Pemeriksaan menyeluruh diperlukan untuk mengetahui kondisi mata sekaligus menentukan penanganan yang sesuai.

Pilihan pengendalian myopia, menurut Ria, dapat meliputi kacamata dengan koreksi yang tepat, lensa defocus, obat tetes khusus, Orthokeratology (Ortho-K), hingga EDOF softlens. Namun, metode tersebut tidak dapat diterapkan secara seragam karena kondisi setiap anak berbeda.

Persoalannya, gangguan penglihatan pada anak kerap tidak segera dikenali. Anak yang kesulitan melihat tulisan di papan kelas, membaca atau mengikuti aktivitas belajar dengan nyaman belum tentu mampu menyampaikan bahwa penglihatannya bermasalah. Di titik inilah peran orang tua dan sekolah menjadi penting.

Presiden Direktur Eyelink Group M. Rusli menegaskan bahwa penglihatan optimal merupakan bagian penting dalam proses anak belajar, berkembang dan meraih prestasi. Karena itu, perhatian terhadap myopia tidak cukup hanya menghitung jumlah kasus, tetapi juga bagaimana mengendalikan perkembangannya.

Sebanyak 15 sekolah yang terlibat terdiri dari Rumah Qur’an Al Ummah, SD IT Al Ibrah, SD Almadany, SD NU Nurul Islah, SD Muhammadiyah 1 GKB, UPT SDN 4 Gresik, UPT SDN 49 Gresik, SD Global School Al Ibrah dan SD SIG di Gresik.

Sedangkan dari Lamongan terdapat SDN Made 4, SDN Jetis 3, SD IT Cendekia, MI Unggulan Sabilillah dan SD Muhammadiyah Lamongan.

Direktur Optik Natamata Muhammad Rijaal Alhaq menilai pengendalian myopia membutuhkan kolaborasi. Orang tua berada di posisi terdekat untuk mengenali perubahan penglihatan anak, sedangkan sekolah dapat membantu memantau kondisi siswa selama proses pembelajaran.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Gresik dr. Puspitasari Wardani juga mendorong keterlibatan pemerintah, dunia pendidikan dan layanan kesehatan. Kolaborasi tersebut dinilai penting agar persoalan kesehatan mata anak tidak berhenti pada pemeriksaan dan pemberian kacamata, tetapi berlanjut pada edukasi serta pemantauan.

Program Vision Fest Myopia Care–Natamata sendiri didukung ekosistem layanan kesehatan mata Eyelink Group, meliputi RS dan Klinik Mata KMU, National Eye Center (NEC), serta Optik Natamata.

Gerakan ini pada akhirnya menguji seberapa serius lingkungan keluarga, sekolah, pemerintah dan layanan kesehatan dalam merespons meningkatnya gangguan penglihatan anak. Deteksi dini menjadi titik penting agar masalah penglihatan tidak terlambat diketahui dan berpotensi mengganggu aktivitas belajar serta perkembangan anak.

(Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.