10 Siswa SLB Blitar Diduga Keracunan Usai Santap MBG

oleh -21 Dilihat
oleh
10 Siswa SLB Blitar Diduga Keracunan Usai Santap MBG
SLB Negeri 1 Kota Blitar.
banner 468x60

BLITAR, Garudasatunews.id – Sebanyak 10 siswa berkebutuhan khusus di SLB Negeri 1 Kota Blitar mengalami keluhan kesehatan setelah menyantap makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Para siswa mengalami gejala antara lain mual, lemas, pusing hingga sebagian harus mendapatkan penanganan di sejumlah fasilitas kesehatan pada Kamis (17/9/2026).

Wakil Kepala Sarana dan Prasarana SLB Negeri 1 Kota Blitar, Yulia, membenarkan adanya 10 siswa yang mengalami keluhan setelah mengonsumsi menu MBG. Para siswa kemudian dibawa ke Puskesmas Kepanjenkidul, RSUD Mardi Waluyo, dan RS Siti Khotijah untuk mendapatkan pemeriksaan serta penanganan medis.

Salah satu siswa bahkan mendapat perawatan di RSUD Mardi Waluyo Kota Blitar. Wakil Direktur Pelayanan RSUD Mardi Waluyo, Agus Saptoni, mengatakan pasien datang dalam kondisi mual dan sempat muntah satu kali. Setelah menjalani observasi dan mendapatkan penanganan medis, kondisi siswa membaik dan diperbolehkan pulang.

Namun, penyebab pasti keluhan tersebut belum dapat dipastikan sebagai keracunan makanan. Pihak rumah sakit menegaskan pemeriksaan medis hanya menangani kondisi pasien, sedangkan kepastian mengenai dugaan keracunan memerlukan pemeriksaan sampel oleh Dinas Kesehatan.

Persoalan kemudian mengarah pada aspek keamanan makanan MBG yang diterima sekolah. Salah satu wali murid, Siti, mengaku makanan yang disajikan diduga sudah mulai basi. Ia menyebut rasa dan kondisi tahu serta lauk yang dicicipinya menunjukkan indikasi makanan tidak lagi dalam kondisi layak konsumsi.

Informasi lain menyebut pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sempat meminta agar makanan tersebut tidak dibagikan setelah muncul indikasi persoalan pada menu. Namun, pemberitahuan tersebut diduga diterima setelah sebagian siswa terlanjur mengonsumsi makanan.

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena program MBG menyangkut distribusi makanan kepada anak-anak di lingkungan pendidikan. Dalam konteks sekolah luar biasa, pengawasan terhadap kondisi kesehatan siswa juga membutuhkan perhatian khusus mengingat sebagian peserta didik berkebutuhan khusus dapat mengalami kendala dalam menyampaikan keluhan secara cepat.

Data resmi pendidikan mencatat SLB Negeri 1 Kota Blitar memiliki 114 peserta didik berkebutuhan khusus yang tervalidasi. Fakta ini membuat aspek keamanan pangan, prosedur pemeriksaan makanan, distribusi, hingga mekanisme penarikan makanan menjadi bagian penting yang perlu dievaluasi ketika terjadi keluhan kesehatan secara bersamaan.

Di sisi lain, para siswa yang sempat mendapatkan penanganan medis dilaporkan telah diperbolehkan pulang setelah kondisinya membaik. Pemeriksaan lebih lanjut terhadap sampel makanan dan kemungkinan penyebab medis diperlukan agar dugaan keracunan tidak berhenti sebagai kesimpulan berdasarkan waktu munculnya gejala semata.

Bagi orang tua, kejadian tersebut menimbulkan kekhawatiran terhadap keamanan makanan yang dikonsumsi anak di sekolah. Karena itu, transparansi hasil pemeriksaan, evaluasi standar keamanan pangan, serta penelusuran rantai penyediaan MBG menjadi informasi penting yang perlu disampaikan kepada publik secara terbuka.

Hingga kepastian laboratorium mengenai penyebab keluhan belum tersedia, istilah dugaan keracunan tetap perlu digunakan secara hati-hati. Langkah tersebut penting untuk menjaga akurasi pemberitaan sekaligus melindungi hak anak dan tidak memberikan stigma terhadap siswa yang mengalami kejadian tersebut.

(Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.