Waspadai Campak, Kenali Gejala dan Komplikasinya

oleh -52 Dilihat
oleh
Waspadai Campak, Kenali Gejala dan Komplikasinya
Salah satu ciri dan bercak campak.
banner 468x60

SURABAYA, Garudasatunews.id – Kasus campak kembali menjadi sorotan di sejumlah wilayah Indonesia. Penyakit yang kerap dianggap sekadar ruam kulit ini sebenarnya merupakan infeksi virus dari keluarga Paramyxoviridae yang sangat menular dan berpotensi menimbulkan komplikasi serius, terutama pada anak-anak.

Campak menyebar melalui udara atau airborne. Virus dapat keluar dari tubuh penderita saat batuk, bersin, maupun berbicara. Bahkan, virus mampu bertahan di udara atau menempel pada permukaan benda hingga dua jam setelah penderita meninggalkan ruangan, sehingga risiko penularannya sangat tinggi di tempat tertutup atau padat aktivitas.

Masa penularan biasanya dimulai sekitar empat hari sebelum ruam muncul hingga empat hari setelahnya. Kondisi ini membuat campak mudah menyebar tanpa disadari, terutama ketika gejala awal belum dikenali oleh penderita maupun keluarga.

Secara medis, gejala campak berkembang secara bertahap dalam kurun waktu dua hingga tiga minggu. Tahap awal dimulai dengan masa inkubasi selama 7 hingga 21 hari ketika virus telah masuk ke tubuh namun belum menimbulkan gejala.

Memasuki fase prodromal, penderita biasanya mengalami demam tinggi di atas 38 derajat Celsius yang disertai gejala khas dikenal sebagai “3C”, yakni cough (batuk), coryza (pilek), dan conjunctivitis (mata merah atau berair).

Tahap berikutnya ditandai munculnya bercak Koplik, yaitu bintik putih kecil di bagian dalam pipi atau rongga mulut yang menjadi ciri khas infeksi campak. Setelah itu, ruam merah akan muncul sekitar tiga hingga lima hari kemudian, biasanya dimulai dari wajah atau garis rambut sebelum menyebar ke seluruh tubuh.

Meski sering dianggap penyakit ringan, campak dapat menimbulkan komplikasi serius. Risiko paling tinggi terjadi pada balita, orang dewasa di atas usia 20 tahun, ibu hamil, serta individu dengan sistem kekebalan tubuh lemah.

Komplikasi yang paling sering terjadi adalah pneumonia atau infeksi paru-paru yang menjadi penyebab utama kematian akibat campak pada anak. Selain itu, virus juga dapat menyerang otak dan menyebabkan ensefalitis yang berpotensi memicu kejang hingga kecacatan permanen.

Dalam kasus yang lebih jarang, campak dapat memicu Subacute Sclerosing Panencephalitis (SSPE), gangguan saraf progresif yang mematikan dan bisa muncul beberapa tahun setelah penderita dinyatakan sembuh.

Hingga kini belum tersedia obat antivirus khusus untuk campak. Penanganan medis umumnya bersifat suportif, seperti menjaga asupan cairan, nutrisi yang cukup, serta istirahat. Tenaga medis juga menganjurkan pemberian Vitamin A untuk membantu menurunkan risiko kematian dan mencegah kerusakan mata yang dapat menyebabkan kebutaan pada anak.

Upaya pencegahan paling efektif tetap melalui vaksinasi MR (Measles-Rubella) atau MMR (Measles-Mumps-Rubella). Selain melindungi individu, vaksinasi juga membantu membentuk kekebalan kelompok (herd immunity) sehingga dapat melindungi masyarakat yang tidak dapat menerima vaksin karena kondisi medis tertentu.

Masyarakat diimbau segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat apabila mengalami gejala yang mengarah pada campak agar diagnosis dan penanganan dapat dilakukan sejak dini. (Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.