BANYUWANGI, Garudasatunews.id – Wakil Menteri Perhubungan Suntana turun langsung meninjau kepadatan kendaraan pemudik di jalur penyeberangan Jawa–Bali dengan mendatangi kawasan Pelabuhan Ketapang, Minggu (15/3/2026) malam. Peninjauan dilakukan setelah antrean kendaraan dari arah Bali menuju Jawa dilaporkan mengular panjang hingga puluhan kilometer menuju Pelabuhan Gilimanuk.
Sebelum mengecek kondisi lapangan, Wamenhub lebih dulu menggelar rapat koordinasi dengan otoritas pelabuhan di kantor ASDP Indonesia Ferry kawasan Pelabuhan Ketapang untuk membahas langkah percepatan arus kendaraan dari sisi Bali yang mengalami penumpukan.
“Saya ke sini hanya ingin mempercepat arus dari sana (Gilimanuk),” kata Suntana usai rapat koordinasi.
Setelah rapat, rombongan langsung bergerak menuju Gilimanuk guna memantau kondisi antrean kendaraan secara langsung di lapangan.
Sejumlah pemudik mengaku harus menunggu berjam-jam sebelum akhirnya bisa menyeberang ke Jawa. Kholik (26), pemudik asal Probolinggo, mengatakan dirinya menunggu lebih dari 10 jam sejak tiba di area antrean kendaraan di Gilimanuk.
Ia berangkat dari kawasan Canggu, Bali, sekitar pukul 22.00 WITA menggunakan travel dan baru bisa naik kapal setelah waktu Magrib keesokan harinya.
“Berangkat jam 10 malam. Naik kapal dari Gilimanuk baru setelah magrib. Lebih dari 10 jam kami menunggu,” ujarnya.
Pemudik lainnya, Heri (45), juga mengaku mengalami antrean panjang. Ia menyebut kemacetan bahkan mencapai lebih dari 30 kilometer dari arah Seminyak menuju pelabuhan.
“Saya berangkat dari Seminyak jam 8 malam, sampai Ketapang hampir jam 7 malam. Macetnya lebih dari 30 kilometer,” katanya.
Menurut Heri, kemacetan paling parah terjadi pada dini hari hingga pagi hari ketika kendaraan hampir tidak bergerak sama sekali selama beberapa jam.
“Jam 3 pagi sampai jam 9 pagi macet total, tidak bisa jalan. Setelah itu baru pelan-pelan bergerak,” jelasnya.
Ia menilai kondisi lalu lintas yang semrawut memperparah antrean kendaraan, terutama karena banyak pengendara saling mendahului di jalur antrean menuju pelabuhan.
General Manager ASDP Indonesia Ferry Cabang Ketapang, Arief Eko, mengatakan pihaknya menerapkan skema tiba-bongkar-berangkat (TBB) untuk mempercepat arus kendaraan dari Bali menuju Jawa.
Dari total sekitar 35 kapal yang beroperasi di lintasan Ketapang–Gilimanuk, sebanyak 11 kapal kini menjalankan pola tersebut, yakni hanya menurunkan muatan di Ketapang tanpa melakukan proses muat ulang sebelum kembali berlayar ke Gilimanuk.
“Skema ini membuat kapal langsung kembali ke Gilimanuk setelah menurunkan kendaraan di Ketapang untuk mengangkut antrean berikutnya,” ujarnya.
Selain itu, ASDP juga berencana memperkuat komposisi armada dengan menambah kapal berukuran besar sekitar 2.000 Gross Tonnage (GT) guna meningkatkan kapasitas angkut kendaraan di lintasan penyeberangan penghubung Jawa–Bali tersebut.
Menurut Arief, jumlah kapal yang beroperasi kemungkinan tetap sekitar 35 unit, namun komposisinya akan diperkuat dengan kapal berkapasitas lebih besar.
Berdasarkan data kumulatif sejak H-10 hingga H-7 menjelang arus mudik, lebih dari 200 ribu penumpang telah diseberangkan dari Bali menuju Jawa melalui lintasan ini. Selain itu, tercatat lebih dari 35 ribu sepeda motor dan sekitar 17 ribu kendaraan kecil juga telah menyeberang.
ASDP memprediksi arus kendaraan dari Bali menuju Jawa masih akan meningkat hingga 17 Maret, menjelang penutupan penyeberangan selama perayaan Hari Raya Nyepi pada 18–20 Maret.
Data sementara menunjukkan lonjakan kendaraan roda dua mencapai sekitar 32 persen dibanding periode yang sama tahun lalu, sedangkan kendaraan roda empat meningkat sekitar 11 persen. (Red-Garudasatunews)














