Reog Turun Jalan, Kampanye Lalu Lintas

oleh -147 Dilihat
oleh
Reog Turun Jalan, Kampanye Lalu Lintas
Kesenian Reog Ponorogo di sosialisasi Tertib Lalu Lintas . (Foto/Istimewa)
banner 468x60

PONOROGO, Garudasatunews.id – Sosialisasi tertib lalu lintas dalam Operasi Keselamatan Semeru 2026 dilakukan dengan cara tak biasa di simpang empat Pasar Legi, Jumat (13/2/2026). Satlantas Polres Ponorogo menghadirkan kesenian Reog Ponorogo sebagai media edukasi keselamatan di tengah arus kendaraan.

Dentuman kendang dan atraksi dadak merak menyedot perhatian pengguna jalan. Di sela pertunjukan, petugas menyampaikan pesan pentingnya keselamatan berkendara, mulai penggunaan helm standar, kelengkapan surat kendaraan, hingga disiplin mematuhi rambu lalu lintas.

Kasat Lantas Polres Ponorogo AKP Dewo Wishnu Setya mengatakan, pendekatan budaya dipilih agar pesan keselamatan tidak terkesan menggurui dan lebih mudah diterima masyarakat lintas usia.

“Kita sengaja sosialisasi pakai Reog karena Ponorogo ciri khasnya Reog. Harapannya pesan yang disampaikan bisa diterima masyarakat, terutama pentingnya menjaga keselamatan diri sendiri maupun pengendara lain,” ujar AKP Dewo.

Operasi Keselamatan Semeru 2026 telah berlangsung sekitar 10 hari. Dalam pelaksanaannya, Satlantas Polres Ponorogo memprioritaskan kalangan pelajar sebagai sasaran utama. Data kepolisian menunjukkan angka kecelakaan di wilayah tersebut masih didominasi remaja usia 16 hingga 19 tahun.

“Awalnya kita menyasar para pelajar yang tidak memiliki surat-surat kendaraan maupun SIM. Karena mayoritas kecelakaan lalu lintas didominasi pelajar usia 16 sampai 19 tahun,” tegasnya.

Selain sosialisasi, petugas juga membagikan cokelat kepada pengendara tertib dalam program Jumat Berkah sebagai bentuk apresiasi. Pendekatan persuasif ini dinilai efektif mendorong kesadaran tanpa mengedepankan penindakan semata.

AKP Dewo menyebut tren kepatuhan masyarakat mulai meningkat, terutama dalam penggunaan helm dan kelengkapan dokumen kendaraan. Namun, operasi tetap digelar hingga selesai guna memastikan perubahan perilaku berlangsung konsisten.

“Yang diharapkan bisa mengurangi angka kecelakaan pada remaja, sekaligus mempersiapkan Operasi Ketupat agar masyarakat semakin tertib. Jadi budaya tertib berlalu lintas tidak hanya saat ada operasi saja, tapi harus menjadi budaya sampai kapanpun,” pungkasnya.

Kampanye berbasis budaya ini diharapkan mampu menekan angka kecelakaan sekaligus menanamkan disiplin berlalu lintas sebagai bagian dari identitas masyarakat Ponorogo. (Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.