MALANG, Garudasatunews.id – Pemerintah Kota Malang menyiapkan langkah intervensi pasar untuk meredam lonjakan harga bahan pokok dengan kembali mengaktifkan program Warung Tekan Inflasi (WTI). Program ini akan ditempatkan di sejumlah pasar tradisional sebagai upaya langsung pemerintah daerah menstabilkan harga di tingkat konsumen.
Wali Kota Malang Wahyu Hidayat menyatakan kebijakan tersebut disiapkan setelah pemerintah daerah bersama Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) melakukan peninjauan langsung ke sentra produksi pangan, termasuk lahan pertanian cabai dan peternakan ayam di wilayah Kedungkandang.
Langkah tersebut dilakukan untuk memetakan rantai pasok dari sektor hulu hingga hilir. Pemerintah kota menilai kestabilan harga di pasar sangat bergantung pada ketersediaan pasokan dari sektor produksi.
Menurut Wahyu, jika produksi cabai dan komoditas lain dari petani lokal mampu mencukupi kebutuhan pasar, maka tekanan harga di tingkat konsumen dapat ditekan. Namun jika suplai masih terbatas, pemerintah akan melakukan intervensi melalui Warung Tekan Inflasi.
“Akan kita lihat dari hulu ke hilir. Dari situ akan kelihatan TPID harus berbuat apa. Apakah perlu ada intervensi agar harga bisa lebih stabil. Karena kita jangan sampai mengorbankan petani, tapi harga beli masyarakat juga tinggi,” kata Wahyu, Rabu (4/3/2026).
Program WTI sebelumnya pernah dijalankan saat Wahyu menjabat sebagai Penjabat Wali Kota Malang. Skema yang disiapkan kali ini menggunakan dana Belanja Tidak Terduga (BTT) milik pemerintah daerah.
Dalam mekanisme tersebut, Pemkot Malang akan membeli langsung komoditas bahan pokok dari pemasok atau produsen, kemudian menjual kembali di pasar dengan harga yang sama tanpa mengambil keuntungan.
Strategi ini diharapkan dapat menekan harga pasar yang melonjak dengan menciptakan acuan harga yang lebih stabil di tingkat pedagang.
“Kalau Warung Tekan Inflasi, BTT sudah kita siapkan. Misalnya kita beli Rp80 ribu, kita jual lagi di pasar tetap Rp80 ribu. Jadi harga yang sudah tinggi akan mengikuti atau paling tidak mendekati harga dari Warung Tekan Inflasi,” ujarnya.
Pemkot Malang juga menyiapkan dukungan lintas perangkat daerah untuk menjalankan program tersebut. Diskopindag Kota Malang akan terlibat dalam pengadaan bahan pokok melalui skema kerja sama antar daerah (KAD).
Melalui kerja sama tersebut, pemerintah daerah akan mencari pasokan komoditas strategis seperti cabai, bawang merah, bawang putih, dan kebutuhan pokok lain dari daerah produsen guna menjaga stabilitas stok di pasar.
Wahyu menegaskan TPID saat ini masih melakukan pemetaan menyeluruh terhadap pola distribusi dan kebutuhan pasar sebelum program tersebut dijalankan secara penuh.
“Kita sudah petakan melalui TPID. Nanti akan dilihat mapping-nya seperti apa, apakah melalui kerja sama antar daerah atau memaksimalkan potensi cabai yang kita miliki. Itu yang sedang kita putuskan,” katanya. (Red-Garudasatunews)














