Kronologi Petir Lumajang, SOP Keselamatan Dipertanyakan

oleh -20 Dilihat
oleh
ilustrasi_berita_petir
Insiden tersambar petir yang menimpa 10 wisatawan saat libur Lebaran 2026 di kawasan pantai selatan Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, Sabtu (28/3/2026), memunculkan pertanyaan serius terkait standar operasional prosedur (SOP) keselamatan di destinasi wisata rawan cuaca ekstrem.
banner 468x60

LUMAJANG, Garudasatunews.id – Insiden tersambar petir yang menimpa 10 wisatawan saat libur Lebaran 2026 di kawasan pantai selatan Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, Sabtu (28/3/2026), memunculkan pertanyaan serius terkait standar operasional prosedur (SOP) keselamatan di destinasi wisata rawan cuaca ekstrem.

Peristiwa terjadi sekitar pukul 17.30 WIB di dua lokasi berbeda, yakni Pantai Bambang, Desa Bago, dan Pantai Watu Pecak, Desa Selok Awar-awar, Kecamatan Pasirian. Cuaca ekstrem berupa hujan deras disertai petir dilaporkan telah berlangsung sejak pukul 16.30 WIB tanpa adanya peringatan atau evakuasi dini terhadap wisatawan.

Di Pantai Bambang, delapan wisatawan yang tengah berlibur memilih berteduh di sebuah pondok terpal darurat yang didirikan secara mandiri di area pantai. Kondisi ini menandakan minimnya fasilitas perlindungan standar yang disediakan pengelola kawasan wisata.

Tak lama berselang, petir menyambar tepat di sekitar lokasi pondok tersebut. Akibatnya, satu korban bernama Alvin (23), warga Candipuro, meninggal dunia, sementara tujuh lainnya mengalami luka-luka, termasuk beberapa yang sempat tidak sadarkan diri.

Pada waktu yang hampir bersamaan, dua wisatawan lain di Pantai Watu Pecak—seorang pria lanjut usia dan cucunya—juga tersambar petir saat berteduh di pondok. Keduanya sempat pingsan dan mengalami luka ringan serta sensasi panas pada tubuh sebelum dievakuasi ke RSUD Pasirian.

Kasubsi PIDM Sihumas Polres Lumajang, Ipda Suprapto, membenarkan kronologi kejadian tersebut. Ia menyebut seluruh korban telah mendapatkan penanganan medis, namun tidak menjelaskan secara rinci terkait kesiapan mitigasi bencana di lokasi wisata saat cuaca ekstrem terjadi.

Fakta bahwa wisatawan terpaksa menggunakan tenda darurat di tengah badai petir memperkuat dugaan lemahnya sistem mitigasi risiko, termasuk absennya shelter aman, peringatan dini, serta pengawasan aktif dari pengelola wisata.

Hingga kini, belum ada keterangan resmi dari pihak pengelola terkait prosedur keselamatan yang diterapkan, meskipun kondisi cuaca ekstrem telah berlangsung cukup lama sebelum kejadian. Situasi ini menegaskan perlunya evaluasi menyeluruh terhadap standar keamanan di kawasan wisata terbuka. (Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.