JAKARTA, Garudasatunews.id – Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI menargetkan jemaah haji yang kembali dari Tanah Suci mampu menunjukkan peran nyata sebagai agen perubahan dan penggerak positif di tengah masyarakat.
Target tersebut disampaikan Direktur Jenderal Pengendalian Penyelenggaraan Haji dan Umrah, Harun Al Rasyid, dalam diskusi bersama Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) di Jakarta, Kamis (26/2/2026), sebagai bagian dari strategi “Tri Sukses” haji yang meliputi kesuksesan ritual, penyelenggaraan, dan peradaban.
Menurut Harun, pembentukan kementerian baru menjadi momentum memperkuat substansi ibadah haji agar tidak berhenti pada simbol atau gelar sosial, melainkan memberi dampak sosial berkelanjutan di lingkungan asal jemaah.
“Bukan sekadar gelar, tetapi lebih pada substansi. Jemaah harus memiliki kemampuan menjadi agen perubahan setelah kembali ke Indonesia,” ujarnya.
Untuk mendukung tata kelola yang profesional, Kemenhaj menggandeng KPPU melakukan pengawasan ketat terhadap ekosistem bisnis haji dan umrah guna menciptakan persaingan usaha yang sehat, transparan, dan bebas monopoli, khususnya dalam layanan transportasi, penginapan, dan kebutuhan jemaah.
Langkah pembenahan juga dilakukan melalui peningkatan kualitas manasik agar lebih seragam dari tingkat kabupaten/kota hingga kecamatan, serta pengaturan pergerakan jemaah di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna) melalui skema tanazul dan murur guna meningkatkan keselamatan dan kenyamanan, terutama bagi jemaah lanjut usia.
Selain aspek teknis, Kemenhaj mendorong pelaku usaha katering di Arab Saudi memprioritaskan penggunaan komoditas dalam negeri seperti beras dan bumbu khas Nusantara agar jemaah lebih nyaman dengan konsumsi sehari-hari selama menjalankan ibadah.
Kebijakan tersebut juga dinilai sebagai strategi promosi produk nasional di pasar global sekaligus memberikan dukungan ekonomi bagi petani dan produsen lokal Indonesia.
Kemenhaj menegaskan, keberhasilan penyelenggaraan haji ke depan tidak hanya diukur dari kelancaran teknis, tetapi dari sejauh mana jemaah mampu menjadi teladan moral dan motor kemajuan sosial setelah kembali ke tanah air. (Red-Garudasatunews)














