IPM Rendah, Mahasiswa Kritik Minim Dialog Publik

oleh -260 Dilihat
IPM Rendah, Mahasiswa Kritik Minim Dialog Publik
Mahasiswa dan akademisi membunyikan alarm keras terkait arah pembangunan Bondowoso.
banner 468x60

BONDOWOSO, Garudasatunews.id – Mahasiswa dan akademisi menyoroti rendahnya Indeks Pembangunan Manusia (IPM) serta minimnya ruang dialog publik dalam arah pembangunan Kabupaten Bondowoso. Kritik tersebut mengemuka dalam Talkshow Kesenian dan Kebudayaan Daerah yang digelar JMSI Bondowoso di Aula SKB, Jumat malam (6/2/2026).

Perwakilan BEM Kampus At-Taqwa Bondowoso, Ahmad Rifandi, menilai klaim pertumbuhan ekonomi daerah belum diiringi penguatan sosial, pendidikan, dan budaya dialog. Ia menegaskan pembangunan tidak bisa dilihat secara parsial.

Menurut Rifandi, kemajuan daerah harus mengintegrasikan aspek geologi, kebudayaan, sosial, ekonomi, dan pendidikan, dengan dialog publik sebagai fondasi utama. Tanpa ruang dialektika, pembangunan berpotensi berjalan sendiri-sendiri.

Mahasiswa menilai forum diskusi yang difasilitasi JMSI menjadi ruang refleksi penting untuk mengevaluasi kebijakan pemerintah daerah. Kritik disampaikan sebagai bentuk kepedulian terhadap persoalan yang belum tertata, terutama tertutupnya ruang dialog antara pemerintah dan masyarakat.

Sebagai solusi, mahasiswa mengusulkan setiap organisasi perangkat daerah membuka forum diskusi publik minimal sebulan sekali dengan melibatkan masyarakat dan pemangku kepentingan.

Rifandi juga menyoroti IPM Bondowoso yang masih berada di kisaran angka 31 dan menjadi salah satu yang terendah. Ia menekankan pentingnya kejujuran kolektif dalam mengakui kondisi tersebut agar pembenahan bisa dilakukan secara serius.

Selain itu, mahasiswa meminta pemerintah daerah memberi ruang partisipasi yang setara bagi perguruan tinggi lokal. Mereka mengaku telah dua kali mengirim surat audiensi kepada bupati terkait pembahasan daerah dan APBD, namun belum mendapat respons.

Pandangan mahasiswa diperkuat Guru Besar Hukum Adat Universitas Jember, Prof. Dr. Dominikus Rato. Ia menegaskan kritik masyarakat merupakan bentuk kepedulian, bukan ancaman bagi pemerintah.

Menurutnya, kegaduhan publik sering muncul akibat minimnya ruang komunikasi yang terbuka dan responsif. Ia mengingatkan bahwa pembangunan, termasuk Ijen UNESCO Global Geopark, membutuhkan proses panjang, biaya, dan kesabaran.

Mahasiswa dan akademisi sepakat bahwa dialog publik yang rutin dan terbuka menjadi kunci agar pembangunan Bondowoso tidak hanya tumbuh secara ekonomi, tetapi juga matang secara sosial dan kualitas manusia.(Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.