Fahruddin Faiz Soroti Overthinking di Kalangan Anak Muda

oleh -26 Dilihat
oleh
Fahruddin Faiz Soroti Overthinking di Kalangan Anak Muda
Fahrudin Faiz
banner 468x60

MALANG, Garudasatunews.id – Fenomena kecemasan berlebihan atau overthinking yang semakin marak di kalangan generasi muda menjadi sorotan dalam agenda Cafe Ramadhan yang digelar di Universitas Brawijaya (UB) Malang. Dalam forum tersebut, pakar kajian filsafat Islam Dr. H. Fahruddin Faiz, S.Ag., M.Ag., memaparkan berbagai pendekatan untuk mengelola kecemasan agar tidak berkembang menjadi gangguan mental serius.

Dalam pemaparannya, Fahruddin Faiz menilai kecemasan merupakan bagian alami dari kehidupan manusia. Namun, jika tidak dikelola dengan baik, kondisi tersebut dapat memicu kelelahan mental yang berpotensi berkembang menjadi depresi.

Ia menjelaskan bahwa salah satu tanda generasi muda yang mengalami overthinking akut adalah munculnya rasa kecewa yang berlebihan terhadap diri sendiri tanpa kemampuan menemukan solusi. Gejala lain yang kerap muncul adalah kebingungan mencari tempat bersandar secara emosional hingga menangis tanpa alasan yang jelas.

Menurutnya, masyarakat perlu memahami konsep “cemas yang sehat” agar perasaan tersebut tidak berubah menjadi tekanan psikologis yang merusak stabilitas mental.

“Penting untuk memiliki cemas yang sehat. Salah satunya dengan memegang konsep stoikisme, yakni lakukan apa yang ada di dalam kuasamu dan sisanya tawakal kepada Allah SWT,” ujarnya saat menyampaikan materi bertajuk “Cemas itu Manusiawi, Tawakal itu Solusi” di Teras Timur Masjid Raden Patah Universitas Brawijaya, Senin (9/3/2026).

Dalam penjelasannya, Faiz juga mengutip ajaran dalam Al-Qur’an yang menyebutkan bahwa rasa cemas dapat memiliki nilai positif ketika ditempatkan dalam konteks yang tepat, misalnya kekhawatiran meninggalkan generasi yang lemah.

Ia menilai kecemasan dalam kadar tertentu justru dapat menjadi pendorong manusia untuk lebih serius memikirkan arah hidup dan tanggung jawabnya.

Untuk memahami akar ketidakseimbangan yang memicu kecemasan, Faiz menjelaskan bahwa manusia memiliki lima lapisan penting dalam dirinya yang harus dijaga keseimbangannya.

Lapisan pertama adalah jasad, yang menurutnya harus dijaga melalui pemenuhan kebutuhan fisik secara cukup. Ketidakseimbangan nutrisi, baik kekurangan maupun berlebihan, dapat memicu gangguan fisik yang berdampak pada kondisi mental.

Lapisan kedua adalah akal, yang keseimbangannya terletak pada keluasan pengetahuan. Ia menilai kegelisahan sering muncul ketika seseorang merasa tidak memahami sesuatu, sehingga proses belajar dan memperluas wawasan menjadi salah satu kunci ketenangan.

Lapisan ketiga adalah hati yang berperan sebagai pusat kendali diri. Menurutnya, hati yang tidak bersih, seperti dipenuhi kesombongan atau iri hati, akan membuat ilmu yang dimiliki tidak memberikan manfaat.

Lapisan keempat adalah nafsu. Ia menegaskan bahwa keinginan adalah hal yang wajar dimiliki manusia, tetapi harus dikendalikan agar tidak berubah menjadi tindakan yang merugikan diri sendiri.

Lapisan terakhir adalah ruh, yang menurut Faiz memperoleh ketenangan melalui kedekatan spiritual dengan Tuhan. Aktivitas ibadah dan refleksi spiritual dinilai menjadi fondasi penting dalam menjaga keseimbangan batin.

“Cemas muncul ketika terjadi ketidakseimbangan dari aspek-aspek ini. Mungkin pikiran buntu, hati kurang jernih, keinginan tidak terkendali, atau jauh dari Allah SWT,” jelasnya di hadapan peserta kajian.

Menghadapi situasi kehidupan yang semakin kompleks dan penuh ketidakpastian, Fahruddin Faiz menekankan pentingnya fokus pada hal-hal yang berada dalam kendali pribadi.

Ia menegaskan bahwa konsep tawakal tidak berarti menyerah tanpa usaha, melainkan sikap berserah diri yang didahului oleh upaya maksimal.

“Sibuklah dengan apa yang berada dalam kuasa kita, dan untuk sisanya pasrahkan kepada Allah SWT,” pungkasnya. (Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.