NGAWI, Garudasatunews.id – Kelangkaan elpiji 3 kilogram mulai dikeluhkan warga di sejumlah wilayah Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, menjelang Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah. Sulitnya memperoleh gas bersubsidi tersebut bahkan memaksa sebagian warga kembali menggunakan kayu bakar untuk memenuhi kebutuhan memasak sehari-hari.
Kelangkaan gas melon itu dirasakan warga sejak sekitar dua pekan terakhir. Di Desa Wonokerto, Kecamatan Kedunggalar, warga mengaku kesulitan mendapatkan elpiji 3 kilogram di tingkat pengecer pada Kamis (12/3/2026).
Sejumlah warga terpaksa berkeliling dari satu pengecer ke pengecer lain untuk mencari tabung gas bersubsidi tersebut. Jika pun tersedia, harga yang ditawarkan disebut jauh lebih tinggi dibandingkan harga normal.
Salah satu warga, Warohmah, mengaku kelangkaan elpiji mulai terasa sejak awal Ramadan. Ketika pasokan tidak tersedia, warga tidak memiliki pilihan selain kembali menggunakan kayu bakar.
“Sejak puasa elpiji sudah langka. Kalau tidak ada, terpaksa pakai kayu bakar. Kalau pun ada, harganya di atas Rp30 ribu,” ujarnya.
Kondisi tersebut juga berdampak pada pelaku usaha kecil yang bergantung pada elpiji 3 kilogram untuk operasional harian. Ayu Ekowati, pedagang ayam goreng di wilayah Kedunggalar, mengaku harus membeli gas dengan harga lebih mahal demi mempertahankan usahanya tetap berjalan.
“Susah mencari gas, harus ke sana kemari. Harganya Rp30 ribu sampai Rp35 ribu, tapi tetap kami beli karena untuk jualan,” katanya.
Di sisi lain, sejumlah pengecer mengaku pasokan elpiji yang mereka terima dalam beberapa pekan terakhir menurun drastis dibandingkan sebelumnya. Margo Sampun, salah satu pengecer elpiji 3 kilogram, menyebut jatah distribusi yang diterimanya kini jauh lebih sedikit.
“Sekarang hanya sekitar 20 tabung per minggu. Dulu bisa 50 sampai 60 tabung,” ungkapnya.
Berkurangnya pasokan di tingkat pengecer membuat mereka kesulitan memenuhi permintaan masyarakat yang meningkat menjelang Lebaran. Kelangkaan serupa juga dilaporkan terjadi di sejumlah desa lain di Kabupaten Ngawi, termasuk wilayah Kecamatan Widodaren.
Sementara itu, pihak Pertamina memastikan stok LPG 3 kilogram di wilayah Karesidenan Madiun, termasuk Kabupaten Ngawi, dalam kondisi aman.
Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Jatimbalinus, Ahad Rahedi, menyatakan pihaknya telah melakukan pengecekan lapangan bersama pemerintah daerah, aparat penegak hukum, serta Hiswana Migas menyusul laporan masyarakat terkait kelangkaan LPG bersubsidi tersebut.
“Setelah dilakukan pengecekan, penyaluran berjalan lancar dan normal di semua pangkalan resmi Pertamina,” ujarnya dalam keterangan tertulis.
Menurutnya, menjelang Idulfitri memang terjadi lonjakan permintaan LPG 3 kilogram. Namun, distribusi di tingkat pangkalan resmi disebut masih stabil dengan rata-rata penyaluran sekitar 26 ribu tabung per hari ke 842 pangkalan yang tersebar di Kabupaten Ngawi.
“Temuan di lapangan, kenaikan harga terjadi di level pengecer,” jelasnya.
Sebagai langkah antisipasi meningkatnya konsumsi masyarakat, Pertamina juga mengusulkan tambahan pasokan LPG 3 kilogram sebanyak 66 ribu tabung untuk wilayah Kabupaten Ngawi.
Pertamina juga mengimbau masyarakat agar membeli LPG 3 kilogram di pangkalan resmi guna mendapatkan harga sesuai ketentuan Harga Eceran Tertinggi (HET) serta memastikan kualitas dan kuantitas produk yang diterima. (Red-Garudasatunews)














