BOJONEGORO, Garudasatunews.id – DPRD Kabupaten Bojonegoro memastikan pengawalan ketat terhadap rencana pembangunan Jalan Lingkar Selatan (JLS) yang terintegrasi dengan flyover sebagai solusi mengatasi kemacetan kronis di kawasan perkotaan.
Ketua DPRD Bojonegoro, Abdulloh Umar, menegaskan proyek strategis tersebut tidak hanya berfokus pada pembangunan infrastruktur, tetapi juga harus mampu menjadi penggerak ekonomi baru bagi masyarakat lokal.
“Kami mendukung penuh proyek JLS dan Flyover ini karena persoalan sosial dan kemacetan di Bojonegoro sudah saatnya dicarikan solusi permanen. Namun, pembangunan ini harus inklusif,” ujarnya.
Menurut Umar, peningkatan volume kendaraan selama ini kerap memicu kepadatan di Bundaran Jetak dan Simpang Proliman Kapas sehingga membutuhkan penanganan jangka panjang yang terencana.
Ia juga meminta Pemerintah Kabupaten Bojonegoro bersama tim ahli memastikan pemerataan ekonomi di sepanjang jalur JLS, termasuk perhitungan matang terhadap titik masuk dan keluar jalan agar tidak memunculkan kemacetan baru.
“Mengingat jalur ini diproyeksikan untuk kendaraan bermuatan besar, konstruksi harus mumpuni namun tetap efisien secara anggaran,” tambahnya.
Bupati Bojonegoro, Setyo Wahono, mengatakan proyek saat ini memasuki tahap pematangan rencana bersama tim kajian Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada. Konsep pembangunan diarahkan efisien dan minimalis, namun tetap memiliki visi jangka panjang.
“Kita dorong konsep yang efisien dan minimalis namun tetap visioner, dengan mempertimbangkan layout jalur yang detail untuk efisiensi lahan dan struktur,” katanya, Kamis (19/2/2026).
Kepala Dinas PU Bina Marga dan Penataan Ruang Kabupaten Bojonegoro, Chusaifi Ifan, menjelaskan studi kelayakan proyek telah rampung pada 2025. Tahun 2026 difokuskan pada penyusunan Detailed Engineering Design (DED) serta penyiapan dokumen pengadaan tanah bagi warga terdampak.
Dokumen pendukung lain seperti Amdal dan Andalalin juga diproses paralel guna mempercepat realisasi pembangunan fisik. JLS direncanakan membentang di sisi selatan rel kereta api untuk mengalihkan arus kendaraan berat agar tidak melintasi pusat kota.
Jalur tersebut diproyeksikan menjadi rute utama logistik sehingga beban lalu lintas di Bundaran Jetak dan Proliman Kapas dapat berkurang signifikan, sementara pembangunan flyover dinilai menjadi solusi teknis karena jalur harus bersinggungan dengan perlintasan kereta aktif. (Red-Garudasatunews)













