Barong Ider Bumi, Ritual Tolak Bala Sarat Makna

oleh -23 Dilihat
oleh
Barong Ider Bumi, Ritual Tolak Bala Sarat Makna
Kemeriahan tradisi Barong Ider Bumi di Banyuwangi.
banner 468x60

BANYUWANGI, Garudasatunews.id – Tradisi sakral Barong Ider Bumi kembali digelar di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, pada 2 Syawal atau hari kedua Idulfitri. Ritual turun-temurun Suku Osing ini tidak sekadar menjadi tontonan budaya, tetapi diyakini sebagai upaya kolektif menolak bala yang telah berlangsung sejak abad ke-19.

Sejak pagi, ribuan warga dan pengunjung memadati ruas jalan desa untuk menyaksikan arak-arakan barong. Kepadatan massa ini menunjukkan tingginya antusiasme, sekaligus menegaskan posisi tradisi tersebut sebagai magnet budaya yang terus bertahan di tengah modernisasi.

Tokoh adat Desa Kemiren, Suhaimi, mengungkapkan bahwa ritual ini berakar dari peristiwa krisis pada 1840-an, ketika desa dilanda wabah penyakit dan gagal panen berkepanjangan. Dalam kondisi tersebut, leluhur desa disebut mendapat petunjuk spiritual untuk mengarak barong sebagai simbol penolak bencana.

“Sejak saat itu, tradisi ini terus dijalankan sebagai bentuk ikhtiar menjaga keselamatan desa,” ujarnya.

Sebelum prosesi dimulai, tokoh adat menggelar doa di petilasan Buyut Cili sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur. Ritual ini menjadi bagian penting yang menegaskan kuatnya kepercayaan masyarakat terhadap nilai spiritual dalam menjaga keseimbangan kehidupan.

Arak-arakan barong kemudian bergerak dari timur ke barat desa sejauh sekitar dua kilometer. Di sepanjang rute, dilakukan tradisi sembur uthik-uthik dengan menebarkan ratusan koin logam yang dicampur beras kuning dan bunga, yang langsung diperebutkan warga sebagai simbol pembuangan nasib buruk.

Fenomena ini tidak hanya mencerminkan kepercayaan lokal, tetapi juga menunjukkan bagaimana nilai-nilai tradisional tetap hidup dan diyakini memiliki dampak nyata bagi kehidupan masyarakat.

Rangkaian ritual ditutup dengan selamatan kampung yang melibatkan seluruh warga. Sajian khas Pecel Pitik menjadi bagian tak terpisahkan dari prosesi, sekaligus simbol kebersamaan dan rasa syukur setelah ritual dijalankan.

Di sisi lain, pemerintah daerah melihat tradisi ini sebagai aset budaya sekaligus potensi ekonomi. Plt Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi, Hartono, menyebut Barong Ider Bumi telah masuk dalam agenda resmi Banyuwangi Attraction 2026.

“Tradisi ini bukan hanya warisan budaya, tetapi juga daya tarik wisata yang mampu mendatangkan pengunjung dari berbagai daerah,” ujarnya.

Meski demikian, meningkatnya komersialisasi budaya juga memunculkan tantangan tersendiri, terutama dalam menjaga kemurnian nilai sakral di tengah kepentingan pariwisata. Keseimbangan antara pelestarian tradisi dan eksploitasi wisata menjadi isu yang tak terhindarkan.

Barong Ider Bumi kini tidak hanya berdiri sebagai ritual adat, tetapi juga menjadi simbol identitas sekaligus pertarungan antara tradisi dan modernitas yang terus berlangsung di Banyuwangi.(Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.