Gresik Juara Domino, Profesionalisme Turnamen Disorot

oleh -15 Dilihat
oleh
banner 468x60

SURABAYA, Garudasatunews.id – Turnamen nasional Surabaya Domino Tournament 2026 berakhir dengan kemenangan pasangan Saifuddin–Erman asal Gresik yang menumbangkan wakil Makassar di partai final. Namun di balik euforia kemenangan, sejumlah aspek profesionalisme dan tata kelola turnamen mulai menjadi sorotan publik.

Ajang yang digelar di Grand City Convention Hall pada 18–19 April 2026 ini disebut sebagai bagian dari upaya membangun ekosistem olahraga domino nasional. Turnamen ini melibatkan kolaborasi antara Higgs Games Island, PB PORDI, PORDI Jawa Timur, Komite Olahraga Nasional Indonesia Jawa Timur, serta pemerintah daerah.

Pasangan Saifuddin–Erman tampil dominan sejak babak awal hingga final. Mereka berhasil mengalahkan pasangan Muslim–Arnas dalam laga penentuan yang berlangsung ketat dan sarat strategi. Kemenangan tersebut mengantarkan keduanya meraih hadiah utama Rp60 juta, sementara runner-up membawa pulang Rp40 juta.

Di posisi ketiga, pasangan Yusran–Mamat dari Kabupaten Malang mengungguli Herfandi–Hermansyah asal Soppeng. Mereka masing-masing memperoleh Rp20 juta dan Rp10 juta untuk peringkat keempat.

Ketua PB PORDI, Andi Jamaro Dulung, menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta. Ia menegaskan turnamen ini merupakan bagian dari rangkaian seri nasional yang akan diperluas ke berbagai kota.

“Kami akan menggelar delapan series di berbagai daerah. Ini bagian dari penguatan ekosistem domino nasional,” ujarnya.

Namun, besarnya nilai dukungan yang disebut mencapai miliaran rupiah dari pihak swasta memunculkan pertanyaan terkait transparansi pendanaan dan distribusi manfaat bagi atlet daerah. Pengamat menilai perlu adanya sistem pengawasan yang jelas agar profesionalisasi olahraga domino tidak hanya berorientasi pada event, tetapi juga pembinaan jangka panjang.

Perwakilan Higgs Games Island, Ray, menyebut turnamen ini sebagai momentum penting transformasi domino dari permainan rekreasi menjadi olahraga kompetitif. Ia menekankan adanya sistem, aturan, dan panggung kompetisi yang mulai terbangun.

Meski demikian, sejumlah pihak menilai pengakuan sebagai cabang olahraga kompetitif membutuhkan legitimasi lebih luas, termasuk standar regulasi, sertifikasi atlet, serta konsistensi penyelenggaraan yang akuntabel.

Tingginya partisipasi peserta dalam turnamen ini menjadi indikator meningkatnya minat masyarakat. Rangkaian agenda lanjutan seperti HGI City Cup 2026 dan ekspansi ke kota-kota seperti Padang dan Bekasi disebut akan memperluas basis atlet.

Namun demikian, keberlanjutan agenda tersebut dinilai harus diimbangi dengan sistem pembinaan yang terukur dan transparan agar domino benar-benar berkembang sebagai olahraga prestasi, bukan sekadar ajang kompetisi sesaat.

(Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.