Saraswati Tengger: Ilmu Dijunjung, Moral Dipertaruhkan

oleh -24 Dilihat
oleh
Saraswati Tengger Ilmu Dijunjung, Moral Dipertaruhkan
Umat Hindu Suku Tengger di Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, merayakan Hari Saraswati, Sabtu (4/4/2026)
banner 468x60

PROBOLINGGO, Garudasatunews.id – Perayaan Hari Saraswati di lereng Gunung Bromo tak sekadar ritual keagamaan, tetapi juga menjadi cermin kuatnya pesan moral di tengah arus perubahan zaman. Umat Hindu Suku Tengger di Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, menggelar persembahyangan khidmat pada Sabtu (4/4/2026), memuliakan ilmu pengetahuan sebagai fondasi kehidupan.

Ratusan umat memadati pura-pura desa, termasuk Pura Sradha Bhakti di Dusun Kedampul, Desa Sapikerep. Dupa mengepul, kidung suci menggema, menghadirkan suasana spiritual yang sarat makna di tengah dinginnya lereng pegunungan.

Namun di balik ritual tersebut, tersirat pesan kritis: ilmu pengetahuan tidak cukup hanya dimiliki, tetapi harus dijalankan dengan tanggung jawab moral. Buku, lontar, dan sarana belajar disucikan sebagai simbol bahwa ilmu harus dijaga dari penyalahgunaan.

Ketua PHDI Desa Sapikerep, Rujiyanto, menegaskan bahwa Hari Saraswati merupakan momentum refleksi, bukan sekadar seremoni tahunan.

“Saraswati adalah penghormatan terhadap ilmu pengetahuan. Ini menjadi pengingat bahwa ilmu harus digunakan secara bijak dan bertanggung jawab,” ujarnya.

Ia juga menyoroti potensi bahaya ketika ilmu tidak diimbangi etika. Menurutnya, kecerdasan tanpa moral justru dapat menjadi ancaman bagi kehidupan sosial.

Rangkaian persembahyangan dipimpin para mangku dan diikuti lintas generasi, mulai dari tokoh adat hingga pemuda. Kehadiran generasi muda menjadi indikator penting dalam menjaga keberlanjutan nilai-nilai tradisi di tengah modernisasi.

Salah satu peserta, Meyla, menyebut perayaan ini sebagai momentum memperkuat kebersamaan umat sekaligus menjaga identitas budaya.

Perayaan Saraswati yang berlangsung setiap 210 hari sekali berdasarkan kalender Bali ini menjadi pengingat bahwa keseimbangan antara pengetahuan dan kebijaksanaan adalah fondasi utama harmoni kehidupan.

Di lereng Bromo, doa yang dipanjatkan bukan hanya tentang ilmu, tetapi juga tentang bagaimana ilmu itu dijaga agar tidak kehilangan arah di tengah perubahan zaman.

Red-Garudasatunews

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.