GRESIK, Garudasatunews.id – Tradisi Ambengan kembali digelar masyarakat Kabupaten Gresik usai Ramadan 1447 H, menegaskan kuatnya praktik budaya lokal sebagai simbol syukur sekaligus perekat sosial di tengah arus modernisasi.
Ambengan tidak sekadar ritual makan bersama, tetapi menjadi ruang kolektif warga untuk memperkuat solidaritas. Hidangan disajikan dalam talam berukuran besar dan disantap bersama oleh tiga hingga empat orang dalam satu wadah.
Ciri utama tradisi ini adalah penggunaan ikan bandeng berukuran besar, bahkan mencapai dua kilogram, yang menjadi ikon kuliner sekaligus identitas budaya masyarakat pesisir Gresik.
Selain bandeng, hidangan dilengkapi telur dan lauk sederhana. Namun, substansi utama tradisi ini terletak pada nilai kebersamaan, bukan pada kemewahan sajian.
Pelaksanaan Ambengan masih terjaga kuat di wilayah utara Gresik dan Kecamatan Duduksampeyan. Warga membawa talam berisi makanan ke masjid, kemudian mengikuti doa bersama sebelum menyantap hidangan secara kolektif.
“Tradisi ambengan sebagai rasa syukur, diawali doa bersama lalu makan bersama,” ujar warga setempat, Sahlul Fahmi, Minggu (22/3/2026).
Ia menyebut tradisi ini diwariskan lintas generasi dan tetap dipertahankan hingga kini. Ikan bandeng yang digunakan umumnya diperoleh dari pasar bandeng, tradisi khas menjelang Lebaran yang menjadi bagian dari siklus budaya masyarakat Gresik.
“Tradisi ambengan ikan bandeng ini masih terus dilestarikan sampai sekarang,” tambahnya.
Di tengah perubahan sosial dan gaya hidup modern, keberlangsungan Ambengan menunjukkan bahwa nilai gotong royong dan rasa syukur masih menjadi fondasi kehidupan masyarakat. Tradisi ini tidak hanya berfungsi sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai mekanisme sosial yang menjaga kohesi antarwarga pasca-Ramadan. (Red-Garudasatunews)














