Dosen Petra Intervensi Bisnis Petani Kopi Malang

oleh -38 Dilihat
oleh
Dosen Petra Intervensi Bisnis Petani Kopi Malang
Suasana pameran kopi Aurum Terra di Ciputra World Surabaya.
banner 468x60

SURABAYA, Garudasatunews.id – Upaya peningkatan kapasitas petani kopi di Kabupaten Malang mulai diarahkan pada penguatan tata kelola usaha, bukan sekadar produksi. Hal itu terlihat dalam kegiatan “AURUM TERRA: Pameran Kelompok Tani Kopi & Tani Beras Sehat” yang digelar pada 14–15 Maret 2026, yang menampilkan hasil produksi sekaligus proses pembinaan terhadap kelompok petani.

Salah satu peserta pameran, Hadi Prastyowanto dari Kelompok Tani Berkah Tani Nyawiji, Desa Sumberdem, memamerkan kopi hasil kebun mereka. Namun keikutsertaan kelompoknya dalam pameran tersebut tidak hanya untuk menjual produk, melainkan menunjukkan perubahan pola pengelolaan usaha yang mereka jalani setelah mendapat pendampingan akademisi.

Program pembinaan tersebut dijalankan oleh tim dosen Universitas Kristen Petra sebagai bagian dari program penguatan kapasitas petani kopi di wilayah Malang. Pendampingan dilakukan mulai dari teknik pengelolaan lahan hingga strategi bisnis pascapanen.

“Kami sangat terbantu karena sekarang memahami pengelolaan kopi secara menyeluruh, mulai dari budidaya hingga pascapanen dan pemasaran,” ujar Hadi.

Ia mengakui sebelumnya sebagian besar petani hanya fokus pada proses budidaya tanpa memahami manajemen usaha yang dapat meningkatkan nilai jual produk. Kondisi tersebut membuat kopi berkualitas tinggi dari petani sering dipasarkan tanpa strategi bisnis yang jelas.

Melalui pelatihan yang diberikan, kelompok tani mulai menerapkan sistem pencatatan keuangan yang lebih tertib. Selain itu, petani juga mendapatkan pelatihan pemanfaatan media sosial sebagai sarana promosi produk dan pengenalan potensi desa.

“Sekarang kami memiliki bekal untuk membuat konten promosi dan memperkenalkan kopi kami ke pasar yang lebih luas,” katanya.

Menurut Hadi, pendampingan tersebut mulai berdampak pada peningkatan kualitas produksi kopi kelompoknya. Ia berharap kolaborasi antara petani dan kalangan akademisi tidak berhenti pada satu program saja, tetapi berlanjut dalam bentuk kerja sama strategis yang berkelanjutan.

Pameran AURUM TERRA menjadi puncak dari rangkaian program hibah yang berlangsung hampir satu tahun. Kegiatan ini melibatkan sejumlah kelompok tani kopi, kelompok tani padi beras sehat, serta kelompok usaha binaan Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW).

Selain menjadi ruang promosi produk pertanian lokal, pameran tersebut juga mempertemukan petani secara langsung dengan konsumen sekaligus membuka peluang pasar yang lebih luas bagi produk mereka.

Ketua tim hibah, Prof. Dr. Dra. Juniarti, M.Si., Ak., menjelaskan pameran ini dirancang sebagai etalase produk pertanian lokal yang telah melalui proses peningkatan kualitas dan manajemen usaha.

“Tujuan utama kegiatan ini adalah memperkenalkan produk kopi dan beras sehat sekaligus membuka peluang penjualan dan pertumbuhan usaha bagi petani serta UMKM yang terlibat,” jelasnya.

Rangkaian kegiatan juga diisi dengan workshop mengenai teknik pengolahan kopi pascapanen serta pemahaman terhadap preferensi pasar. Materi tersebut diberikan untuk membantu petani menyesuaikan produk mereka dengan kebutuhan konsumen.

Program pendampingan ini didukung hibah senilai AUD 25.000 dan berlangsung sejak 25 April 2025 hingga 28 Februari 2026. Program difokuskan pada komunitas petani kopi PATUWEN di wilayah Malang.

Juniarti mengungkapkan bahwa di balik reputasi Indonesia sebagai salah satu produsen kopi dunia, banyak petani kecil masih menghadapi persoalan serius seperti lemahnya manajemen usaha, minimnya pencatatan keuangan, hingga keterbatasan akses pasar.

“Sering kali produk kopi mereka sebenarnya berkualitas tinggi, tetapi dijual dengan harga yang belum mencerminkan nilai sebenarnya,” ujarnya.

Untuk menjawab persoalan tersebut, tim dosen UK Petra memberikan pelatihan mulai dari perhitungan biaya produksi, pelaporan keuangan digital, hingga pemanfaatan teknologi blockchain dan e-commerce dalam pemasaran produk.

Program ini juga melibatkan sejumlah akademisi lintas bidang, antara lain Hariyo Priambudi Setyo Pratomo dari bidang Sustainable Mechanical Engineering and Design, Yohan Gunawan Henuk dari Digital Business Transformation, serta Hendri Kwistianus dari bidang Business Accounting.

Peserta program berasal dari komunitas PATUWEN yang terdiri dari tiga kelompok tani kopi dan satu kelompok tani beras. Pendampingan difokuskan pada penguatan tata kelola usaha agar petani memiliki kemampuan bisnis yang lebih profesional.

Menurut Juniarti, peningkatan kapasitas petani tidak cukup hanya melalui perbaikan teknik budidaya, tetapi juga harus dibarengi kemampuan mengelola usaha secara berkelanjutan agar petani memiliki posisi tawar yang lebih kuat dalam rantai industri kopi nasional.

“Ini bukan sekadar peningkatan aspek teknis, tetapi investasi jangka panjang untuk menciptakan kemandirian petani dan memperkuat posisi mereka dalam rantai nilai industri kopi Indonesia,” pungkasnya.
(Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.