Glaukoma Ancam Penglihatan, Deteksi Dini Jadi Kunci

oleh -52 Dilihat
oleh
Glaukoma Ancam Penglihatan, Deteksi Dini Jadi Kunci
RS Mata Undaan Surabaya menggelar diskusi edukasi glaukoma dalam rangka World Glaucoma Week 2026,
banner 468x60

SURABAYA, Garudasatunews.id – Penyakit glaukoma masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan mata masyarakat dan tercatat sebagai salah satu penyebab utama kebutaan di dunia. Minimnya kesadaran dan keterlambatan deteksi membuat banyak penderita baru mengetahui kondisi tersebut setelah penglihatan mengalami kerusakan permanen.

Dalam rangka memperingati Pekan Glaukoma Sedunia 2026, Rumah Sakit Mata Undaan (RSMU) Surabaya menggelar diskusi edukatif bersama pasien dan masyarakat pada Selasa (10/3/2026). Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman publik terhadap gejala, penyebab, serta penanganan penyakit yang kerap berkembang tanpa disadari tersebut.

Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), lebih dari 70 juta orang di dunia menderita glaukoma. Jumlah tersebut diproyeksikan terus meningkat hingga melampaui 110 juta penderita pada tahun 2040.

Di Indonesia, glaukoma juga menjadi salah satu penyebab kebutaan yang cukup signifikan, terutama pada kelompok usia lanjut. Namun rendahnya tingkat kesadaran masyarakat membuat penyakit ini kerap terlambat terdeteksi.

Dokter spesialis mata RSMU Surabaya, dr. Dewi Rosarina, Sp.M(K), menjelaskan glaukoma merupakan penyakit yang terjadi akibat kerusakan saraf mata yang menyebabkan gangguan penglihatan secara bertahap.

Menurutnya, gejala awal sering kali tidak disadari penderita karena berkembang perlahan, mulai dari penglihatan kabur hingga penyempitan lapang pandang.

“Gejala awal biasanya ditandai penglihatan yang mengabur dan berkabut, kemudian disertai penyempitan lapang pandang secara perlahan,” ujar dr. Dewi saat memberikan penjelasan di Auditorium dr. Badri lantai 3 RSMU Surabaya.

Ia menambahkan, penyempitan lapang pandang dapat memengaruhi aktivitas sehari-hari penderita. Pasien kerap tidak menyadari keberadaan benda di sekitar sehingga sering tersandung atau terbentur.

Kondisi tersebut juga berisiko memicu kecelakaan lalu lintas karena penderita tidak mampu melihat objek di sisi samping penglihatannya.

Dr. Dewi mencontohkan kasus pasien yang beberapa kali mengalami kecelakaan saat hendak berbelok karena mata yang terdampak glaukoma tidak mampu mendeteksi kendaraan di sisi tertentu.

“Pasien beberapa kali mengalami kecelakaan saat hendak berbelok kiri karena mata kirinya tidak mampu melihat keberadaan sepeda motor di sisi tersebut,” jelasnya.

Ia juga menegaskan bahwa glaukoma tidak hanya menyerang kelompok usia lanjut, tetapi dapat terjadi pada semua kelompok usia, termasuk bayi dan anak-anak.

Secara medis, glaukoma terbagi menjadi dua kategori utama, yaitu glaukoma primer yang muncul tanpa penyebab spesifik dan glaukoma sekunder yang dipicu oleh kondisi medis tertentu.

Faktor sekunder dapat disebabkan oleh trauma pada mata, efek pascaoperasi, penggunaan obat-obatan tertentu, hingga komplikasi penyakit kronis seperti diabetes.

“Pasien diabetes juga berisiko mengalami glaukoma, terutama jika kondisi perdarahan pada mata tidak dapat dikendalikan,” ungkapnya.

Meski kerusakan saraf mata akibat glaukoma bersifat permanen dan tidak dapat dipulihkan sepenuhnya, perkembangan penyakit ini masih dapat dikendalikan melalui pengobatan maupun tindakan medis.

Penanganan yang tersedia meliputi penggunaan obat tetes mata, tindakan laser seperti Selective Laser Trabeculoplasty (SLT) atau Argon Laser Trabeculoplasty (ALT), operasi trabekulektomi, hingga pemasangan implan drainase atau tube shunt.

“Tindakan operasi dilakukan sesuai kondisi masing-masing pasien, apakah melalui trabekulektomi, operasi laser, atau pemasangan implan drainase,” jelas dr. Dewi.

Ia menegaskan bahwa kontrol rutin setelah pengobatan atau operasi menjadi langkah penting untuk memantau perkembangan penyakit agar tidak semakin memburuk.

“Pasien harus menjalani kontrol secara rutin untuk memastikan penyakit ini dapat dikendalikan dan tidak mengalami progres keparahan,” pungkasnya. (Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.