
BANYUWANGI, Garudasatunews.id – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Banyuwangi mengimbau umat Islam untuk menjaga persatuan di tengah potensi perbedaan penetapan awal puasa Ramadan 1447 Hijriah. Imbauan ini disampaikan menyusul kemungkinan adanya perbedaan metode penentuan awal Ramadan di sejumlah kalangan.
Ketua Umum MUI Banyuwangi, KH A. Muhaimin Asymuni, menegaskan bahwa perbedaan dalam menentukan awal Ramadan merupakan hal yang wajar dalam khazanah fiqih Islam. Namun demikian, ia mengingatkan agar kondisi tersebut tidak memicu perpecahan maupun saling menyalahkan antarumat.
“Perbedaan jangan sampai menjadi alasan untuk saling menghujat. Umat Islam harus tetap menjaga ukhuwah dan saling menghormati,” tegasnya.
Ia menekankan bahwa esensi Ramadan adalah memperkuat keimanan, ketakwaan, serta persaudaraan. Karena itu, seluruh elemen masyarakat diminta menahan diri dan tidak memperkeruh suasana dengan narasi provokatif, baik di lingkungan sosial maupun media sosial.
MUI Banyuwangi juga mengajak tokoh agama dan masyarakat untuk berperan aktif memberikan pemahaman yang menyejukkan, sehingga situasi tetap kondusif. Menurutnya, sikap dewasa dalam menyikapi perbedaan adalah cerminan kematangan beragama.
Dengan imbauan ini, MUI berharap umat Islam di Banyuwangi dapat menjalankan ibadah Ramadan dengan damai, khusyuk, dan penuh toleransi meski terdapat potensi perbedaan awal puasa. (Red-Garudasatunews)












