JOMBANG, Garudasatunews.id – Ibu Nyai Farida Salahuddin Wahid, istri almarhum KH Salahuddin Wahid atau Gus Sholah, memiliki kisah kenangan tentang suaminya yang berkaitan dengan mimpi dan kabar dari Institut Teknologi Bandung (ITB). Kisah tersebut menjadi bagian dari narasi personal mengenai sosok Gus Sholah, tokoh Nahdlatul Ulama (NU) sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang.
Gus Sholah dikenal sebagai cendekiawan Muslim yang memiliki perhatian terhadap pendidikan, pengembangan pesantren, serta persoalan sosial kemasyarakatan. Ia merupakan adik kandung KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, Presiden keempat Republik Indonesia.
Kisah mengenai mimpi Nyai Farida dan kabar dari ITB menjadi sisi lain dari perjalanan hidup Gus Sholah. Namun, penuturan mengenai mimpi merupakan pengalaman pribadi dan tidak dapat diperlakukan sebagai bukti atas suatu peristiwa tanpa keterangan pendukung yang dapat diverifikasi.
Nama Emil Dardak juga menjadi bagian dari judul kisah tersebut. Emil Dardak dikenal sebagai politikus yang pernah menjabat Wakil Gubernur Jawa Timur dan turut mengenang pemikiran serta keteladanan Gus Sholah dalam berbagai kesempatan.
Gus Sholah wafat pada 2 Februari 2020. Kepergiannya meninggalkan duka bagi keluarga, kalangan pesantren, serta masyarakat yang mengenal kiprahnya dalam bidang keagamaan, pendidikan, dan kehidupan kebangsaan.
Semasa hidup, Gus Sholah berupaya mengembangkan Pesantren Tebuireng agar mampu memadukan pendidikan agama dengan pengetahuan umum. Pemikirannya juga menekankan pentingnya keterbukaan terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tanpa meninggalkan nilai-nilai pesantren.
Kenangan yang disampaikan keluarga menjadi salah satu cara untuk merawat ingatan publik terhadap perjalanan hidup Gus Sholah. Meski demikian, rincian mengenai hubungan antara mimpi Nyai Farida, Emil Dardak, dan kabar dari ITB perlu merujuk pada isi sumber asli agar kronologi serta konteksnya tidak keliru.
Kisah tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa pemberitaan mengenai tokoh publik tidak hanya berkaitan dengan jabatan dan kiprah kelembagaan, tetapi juga dapat memuat pengalaman personal yang memiliki nilai historis bagi keluarga dan masyarakat.
(Red-Garudasatunews)














