Mesin Sagu UB Pangkas Waktu Kerja dari 7 Hari Jadi 3 Jam

oleh -23 Dilihat
oleh
Mesin Sagu UB Pangkas Waktu Kerja dari 7 Hari Jadi 3 Jam
Tim dari UB saat berada di Papua (Foto: Istimewa)
banner 468x60

SORONG, Garudasatunews.id – Inovasi mesin pengolah sagu yang dikembangkan tim Universitas Brawijaya (UB) membantu mempercepat proses pengolahan sagu di Distrik Klamono, Kawasan Transmigrasi Klamono–Segun, Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya. Pekerjaan penghancuran empulur satu pohon sagu yang sebelumnya membutuhkan sekitar tujuh hari secara manual kini dapat diselesaikan dalam waktu sekitar tiga jam menggunakan mesin parut.

Penerapan teknologi tepat guna tersebut menjadi upaya meningkatkan efisiensi pengolahan pangan lokal sekaligus membuka peluang peningkatan kapasitas produksi tepung sagu masyarakat setempat. Kegiatan ini didanai Kementerian Transmigrasi melalui Program Transmigrasi Patriot.

Ketua tim UB, Yusron Sugiarto, menjelaskan bahwa penggunaan mesin menjawab kendala pengolahan sagu yang selama ini membutuhkan banyak tenaga dan waktu. Dengan proses yang lebih cepat, kelompok masyarakat berpeluang mengolah bahan baku lebih banyak dibandingkan metode manual.

Teknologi Percepat Pengolahan Sagu

Peralatan yang diterapkan tidak hanya berupa mesin parut. Rangkaian pengolahan juga mencakup mesin peras ulir (screw press), bak pengendapan, serta unit pengeringan matahari yang dilengkapi kipas bertenaga panel surya.

Peralatan tersebut mendukung sejumlah tahapan pengolahan, mulai dari penghancuran empulur batang sagu hingga pemisahan dan pengeringan pati. Dengan dukungan teknologi ini, proses produksi diharapkan menjadi lebih efisien dan dapat membantu meringankan beban kerja masyarakat.

Meski demikian, percepatan pada tahap pemarutan perlu dibedakan dari keseluruhan proses produksi. Waktu tiga jam yang disebutkan merujuk pada penghancuran empulur satu pohon sagu, bukan berarti seluruh tahapan hingga menghasilkan tepung sagu kering selesai dalam waktu tersebut.

Peluang Ekonomi bagi Masyarakat Papua

Pengembangan mesin pengolah sagu memiliki arti penting bagi masyarakat di wilayah yang memiliki potensi sumber daya sagu. Penggunaan teknologi dapat membuka peluang peningkatan kapasitas produksi dan memperkuat pengolahan pangan lokal agar memiliki nilai tambah ekonomi.

Namun, peningkatan produktivitas tidak hanya ditentukan oleh kecepatan mesin. Ketersediaan bahan baku, keterampilan operator, biaya operasional, perawatan peralatan, serta kualitas tepung yang dihasilkan turut menentukan keberlanjutan usaha pengolahan sagu.

Karena itu, pendampingan teknis dan kemampuan kelompok masyarakat dalam mengoperasikan serta merawat mesin menjadi aspek penting agar manfaat inovasi dapat dirasakan dalam jangka panjang.

Keberlanjutan Teknologi Perlu Diperhatikan

Penerapan mesin pengolah sagu di Distrik Klamono menunjukkan potensi kolaborasi perguruan tinggi dan program pemerintah dalam mendorong pemanfaatan pangan lokal berbasis teknologi.

Ke depan, dampak program perlu dilihat melalui hasil nyata, seperti peningkatan volume produksi, efisiensi biaya dan tenaga kerja, kualitas tepung, serta perubahan pendapatan masyarakat pengolah sagu.

Evaluasi tersebut penting untuk memastikan bahwa inovasi tidak berhenti pada penerapan peralatan, tetapi juga mendukung kemandirian kelompok masyarakat dan keberlanjutan usaha pangan lokal di Papua Barat Daya.

(Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.