Dua Tahun Prabowo-Gibran, MBG Perkuat Gizi Santri dan Ekonomi Desa

oleh -21 Dilihat
oleh
Dua Tahun Prabowo-Gibran, MBG Perkuat Gizi Santri dan Ekonomi Desa
Tokoh Muda Nahdlatul Ulama (NU) Ubaidillah Amin menilai Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dijalankan Presiden Prabowo Subianto telah memberikan manfaat nyata bagi masyarakat
banner 468x60

JAKARTA, Garudasatunews.id – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menjadi salah satu upaya pemerintah dalam memperkuat pemenuhan gizi peserta didik, termasuk santri di lingkungan pesantren, sekaligus membuka peluang pertumbuhan ekonomi di tingkat desa.

Program tersebut tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan pangan bergizi bagi generasi muda, tetapi juga berpotensi menggerakkan rantai pasok lokal melalui keterlibatan petani, peternak, pedagang, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta komunitas pesantren.

Keterlibatan produsen lokal menjadi salah satu aspek penting dalam pelaksanaan MBG. Kebutuhan bahan pangan untuk penyediaan makanan dapat membuka pasar bagi produk pertanian, peternakan, perikanan, dan usaha pangan di daerah.

Jika rantai pasok dibangun dengan baik, program ini berpeluang memberikan kepastian permintaan bagi produsen lokal sekaligus menciptakan kesempatan kerja di sekitar lokasi pelayanan pemenuhan gizi.

MBG dan Penguatan Gizi Santri

Bagi lingkungan pesantren, pemenuhan kebutuhan gizi menjadi bagian penting dalam mendukung kesehatan dan proses pembelajaran santri. Ketersediaan makanan bergizi diharapkan membantu peserta didik menjalani kegiatan belajar secara lebih optimal.

Namun, keberhasilan program tidak cukup diukur dari jumlah makanan yang disalurkan. Kualitas bahan pangan, kecukupan kandungan gizi, kebersihan pengolahan, ketepatan distribusi, dan kesesuaian penerima manfaat juga perlu menjadi perhatian.

Pengawasan yang konsisten diperlukan agar pelaksanaan MBG benar-benar memberikan manfaat bagi anak-anak dan santri, sekaligus menjaga kualitas layanan di setiap satuan pendidikan maupun pesantren yang menjadi sasaran program.

Peluang Ekonomi bagi Masyarakat Desa

Selain menyasar kebutuhan gizi, MBG berpotensi menciptakan perputaran ekonomi melalui pembelian bahan pangan dari produsen setempat. Petani dapat memasok sayuran dan hasil pertanian, peternak menyediakan telur serta produk peternakan, sedangkan pelaku usaha pangan dapat terlibat dalam proses penyediaan makanan.

Keterlibatan pelaku usaha lokal dapat memperpendek rantai distribusi dan membuka peluang pendapatan bagi masyarakat. Pesantren juga berpotensi mengambil bagian melalui pengembangan usaha, penyediaan layanan, maupun keterlibatan dalam jaringan pasok sesuai ketentuan yang berlaku.

Meski demikian, dampak ekonomi tersebut bergantung pada tata kelola program. Transparansi pengadaan, kewajaran harga, kualitas bahan pangan, serta kesempatan yang adil bagi pemasok lokal menjadi faktor penting agar manfaatnya tidak hanya terkonsentrasi pada kelompok usaha tertentu.

Pengawasan dan Transparansi Menjadi Kunci

Pelaksanaan MBG memerlukan pengawasan berkelanjutan, terutama terkait penggunaan anggaran, mekanisme pengadaan, keamanan pangan, dan distribusi kepada penerima manfaat.

Informasi mengenai jumlah penerima, realisasi anggaran, pemasok, serta hasil evaluasi program perlu disampaikan secara terbuka sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. Langkah tersebut penting untuk menjaga kepercayaan publik dan memastikan program berjalan sesuai tujuan.

Dari sisi perlindungan anak, penyelenggaraan program juga harus mengutamakan keselamatan, kesehatan, martabat, dan kepentingan terbaik anak. Setiap persoalan yang muncul dalam pelaksanaan perlu ditangani secara bertanggung jawab tanpa mengabaikan hak anak atas perlindungan.

Dengan demikian, MBG berpotensi memberikan manfaat ganda bagi masyarakat, yakni mendukung pemenuhan gizi santri dan peserta didik sekaligus membuka peluang ekonomi desa. Agar manfaat tersebut berkelanjutan, pelaksanaannya perlu ditopang pengawasan, transparansi, standar kualitas pangan, dan evaluasi yang dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat.

(Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.