Tradisi Sebar Koin Jamsaren Bertahan Sejak 1908

oleh -16 Dilihat
oleh
Tradisi Sebar Koin Jamsaren Bertahan Sejak 1908
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid Wakaf Jamsaren diramaikan dengan tradisi tahunan Sebar Koin pada Senin malam (24/8/2026).
banner 468x60

KEDIRI, Garudasatunews.id – Tradisi Sebar Koin kembali mewarnai peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid Wakaf Jamsaren, Kota Kediri, Senin malam (24/8/2026). Tradisi yang diyakini telah berlangsung sejak 1908 itu bukan sekadar kemeriahan tahunan, tetapi menjadi bagian dari kultur keagamaan masyarakat setempat yang berpotensi dikembangkan sebagai daya tarik wisata religi.

Rangkaian kegiatan dimulai sejak pagi melalui khotmil Qur’an. Setelah salat Magrib, jamaah melanjutkan kegiatan dengan pembacaan Kitab Al-Barzanji dan selawat. Puncak peringatan berlangsung setelah salat Isya ketika takmir masjid dan jamaah menebarkan uang koin serta lembaran uang dari lantai atas masjid ke arah jamaah yang berada di bawah.

Suasana langsung berubah riuh. Anak-anak dan jamaah berebut mengambil uang yang tersebar di area masjid. Tradisi tersebut menjadi momen yang paling dinantikan masyarakat setiap peringatan Maulid Nabi sekaligus memperlihatkan kuatnya hubungan antara kegiatan keagamaan, sedekah, dan budaya lokal di Jamsaren.

Jejak tradisi ini bukan fenomena baru. Dokumentasi pemberitaan sebelumnya menunjukkan praktik sebar koin di Masjid Wakaf Jamsaren telah berlangsung secara turun-temurun. Pada 2018, tradisi tersebut juga diikuti ratusan anak, remaja hingga warga dewasa setelah salat Isya. Tujuan yang disampaikan saat itu antara lain mengajak anak-anak lebih senang datang dan beribadah di masjid sekaligus menjadi sarana berbagi dan bersedekah.

Nilai historis tersebut menjadi salah satu alasan tradisi Sebar Koin mulai dipandang memiliki potensi lebih luas. Bukan hanya sebagai ritual tahunan masyarakat, tetapi juga sebagai bagian dari kekayaan budaya religi Kota Kediri.

Namun, menjadikan tradisi ini sebagai wisata religi membutuhkan pengelolaan yang hati-hati. Daya tarik kerumunan, terutama anak-anak, harus diimbangi dengan aspek keselamatan, ketertiban, kenyamanan jamaah, serta penghormatan terhadap fungsi utama masjid sebagai tempat ibadah.

Pengembangan sebagai wisata religi juga perlu memastikan bahwa nilai sedekah dan syiar Islam tidak bergeser menjadi sekadar tontonan. Dokumentasi sejarah, edukasi mengenai asal-usul tradisi, serta pengaturan pelaksanaan dapat menjadi bagian penting apabila pemerintah daerah dan masyarakat benar-benar ingin mengangkatnya sebagai destinasi budaya religi.

Tradisi Sebar Koin Jamsaren dengan demikian memiliki dua wajah sekaligus: warisan budaya yang terus hidup dan peluang ekonomi-kultural bagi Kota Kediri. Tantangannya adalah bagaimana mempertahankan makna keagamaan yang diwariskan sejak dahulu, sembari mengelolanya secara tertib apabila kelak dikembangkan menjadi salah satu tujuan wisata religi.

Keberlanjutan tradisi tersebut pada akhirnya bergantung pada kemampuan masyarakat, pengelola masjid, dan pemerintah menjaga keseimbangan antara pelestarian kultur, syiar keagamaan, keselamatan jamaah, serta potensi pengembangan pariwisata berbasis budaya lokal.

(Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.