Guru Besar UIN Madura Disorot, Dampak Nyata Dipertanyakan

oleh -18 Dilihat
oleh
Guru Besar UIN Madura Disorot, Dampak Nyata Dipertanyakan
Bupati Pamekasan, KH Kholilurrahman saat menghadiri Sidang Senat Terbuka dalam rangka Pengukuhan Guru Besar UIN Madura di Pamekasan, Sabtu (2/5/2026).
banner 468x60

PAMEKASAN, Garudasatunews.id – Pengukuhan empat guru besar di Universitas Islam Negeri (UIN) Madura disorot sebagai momentum strategis, namun juga memunculkan pertanyaan terkait sejauh mana kontribusi nyata akademisi terhadap pembangunan daerah. Bupati Pamekasan, KH Kholilurrahman, menyebut agenda tersebut sebagai kebanggaan daerah sekaligus tonggak penting dunia akademik.

Pernyataan itu disampaikan usai menghadiri Sidang Senat Terbuka pengukuhan guru besar di kampus UIN Madura, Jalan Raya Panglegur KM 4, Tlanakan, Sabtu (2/5/2026). Pemerintah daerah mengklaim kegiatan ini sebagai bentuk komitmen mendorong kemajuan pendidikan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM).

Namun, di tengah seremoni akademik tersebut, muncul sorotan terhadap implementasi konkret dari hasil pemikiran para guru besar. Bupati menegaskan harapannya agar pengukuhan ini tidak berhenti pada simbol akademik semata, melainkan melahirkan inovasi yang berdampak langsung bagi masyarakat.

“Momentum ini harus melahirkan pemikiran besar dan kontribusi nyata bagi kemajuan daerah,” ujar Kholilurrahman.

Ia juga menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah daerah dan perguruan tinggi. Menurutnya, kolaborasi tersebut menjadi kunci percepatan pembangunan, meskipun hingga kini belum dijelaskan secara rinci bentuk program konkret yang akan dijalankan bersama.

Di sisi lain, keberadaan guru besar di lingkungan UIN Madura dinilai strategis dalam merumuskan kebijakan berbasis riset. Namun, tantangan utama yang mengemuka adalah bagaimana hasil riset tersebut benar-benar diimplementasikan, bukan sekadar menjadi kajian akademik tanpa dampak lapangan.

Bupati mencontohkan sejumlah sektor yang dinilai membutuhkan sentuhan inovasi, seperti pendidikan adaptif, pemberdayaan ekonomi berbasis potensi lokal, hingga penguatan nilai keagamaan moderat. Meski demikian, belum ada indikator terukur yang disampaikan terkait keberhasilan program-program tersebut.

Empat akademisi yang dikukuhkan sebagai guru besar masing-masing adalah Prof Dr Achmad Muhlis (Sosiologi Pendidikan Islam), Prof Dr Atiqullah (Kepemimpinan Pendidikan Islam), Prof Dr Mohammad Ali Al-Humaidy (Sosiologi Politik Islam), dan Prof Dr Rudy Haryanto (Ilmu Manajemen Pemasaran).

Pengukuhan dipimpin Direktur Pendidikan Tinggi Islam pada Ditjen Pendidikan Islam Kementerian Agama RI, Prof Dr Phil Sahiron, di auditorium kampus yang mengusung prinsip “Kampus Religius, Kompetitif, dan Kolaboratif”.

Sejumlah pihak menilai, keberhasilan pengukuhan guru besar seharusnya diikuti dengan mekanisme pengawasan dan evaluasi kontribusi akademik terhadap pembangunan daerah. Tanpa itu, gelar akademik tertinggi dikhawatirkan hanya menjadi simbol prestise tanpa dampak signifikan bagi masyarakat luas.

Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.